Matanya tajam bagaikan anak panah
yang siap meluncur, namun tatapannya sama sekali tidak mempunyai makna,
semenjak kecelakaan beberapa tahun lalu yang hampir saja merenggut nyawa Putroe
Maneh (20), gadis hitam manis yang kerap di sapa maneh oleh penduduk
kampungnya, sekarang maneh lebih banyak melakukan pekerjaan melamun, menyendiri
di sehelai tikar pandan teras rumahnya.
Kecelakaan itu sudah berlalu
selama empat tahun belakangan, namun kenangan itu masih menyisakan hingga kini,
apa lagi saat melihat salah satu kakinya yang telah hilang pada saat itu, Maneh
merasa sangat terpukul setelah kejadian di simpang “tarok” tersebut.
Hari minggu itu seharusnya
menjadi hari yang bahagia baginya karena terpilih menjadi duta pariwisata 2008
dan juga lulus seleksi pertukaran pelajar di Turki melalui perwakilan
sekolahnya. Namun kebahagiaan itu sirna lalu berganti menjadi duka, mimpinya
selama ini sudah berada di tangan, kemudian hilang tanpa sempat dicicipi
sedikitpun olehnya.
Maneh merupakan gadis kampung
yang terletak di pesisir barat selatan aceh, dia juluki “bungoeng lam oen” oleh
warga sekitar, karena sikapnya yang santun, menghormati orang tua dan jarang
bergaul dengan laki-laki seperti gadis lainnya yang saat itu lagi tren dengan
kata pacaran. Maneh keluar rumah hanya untuk mengaji dan sekolah saja,
hari-harinya dihabiskan di rumah untuk membantu Emaknya yang mengais rejeki
melalui racikan masakan, keluarga maneh sering mendapat panggilan di
rumah-rumah kenduri untuk di pakai jasanya atau lebih populernya catering,
masakan ibunya maneh memang sudah diakui di kampung nan asri tersebut.
Kini maneh kecil telah beranjak
dewasa, kecelakaan tahun lalu mengharuskan kakinya diamputasi, hanya dengan
berjalan satu kaki dan dua tongkat tidak membuat gadis bermata sipit ini patah
semangat dan putus asa, meskipun tidak sedikit orang-orang yang menghardiknya
dengan sebutan kaki satu.
Setelah menyelesaikan masa
studinya di SMA (Sekolah Menengah Atas), dia ingin sekali melanjutkan
pendidikan di Unsyiah (universitas syiah kuala) Banda Aceh, seperti yang
diributkan oleh anak-anak kelasnya. Namun keinginannya itu bertentangan dengan
kedua orangtuanya, karena Maneh tidak mungkin akan mampu berada jauh dari
tempat kelahiran dan orang tuanya.
“mak, lon meuhet that hatee
kuliah bak Unsyiah, lon harap mak mengerti,” ungkapnya kepada Emaknya dengan
mata berkaca-kaca. “hanjeut neuk,,,keadaan tanyoe berbeda, hana sama lage ureng
laen.” Mendengar jawaban itu maneh tidak patah semangat, semangatnya terus
menyala bak api yang siap membakar siapa saja yang menghalanginya. Menurut
maneh bermimpi itu memang sangat sakit dan sedih karena sangat susah menggapainya, namun akan
lebih sedih jika tidak bermimpi sama sekali, paling tidak telah berusaha
semampunya.
***
Seiring waktu berjalan, Emak pun
mengizinkan maneh merantau ke kota, meski kekhawatiran yang terus saja
menghampirinya, namun melihat keyakinan maneh kekhawatirannya pun berkurang.
Maneh lulus dan menjadi mahasiswa
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip), jurusan sastra di kampus yang di
juluki jantong Hatee rakyat aceh, yaitu universitas yang di kagum-kaguminya
saat sekolah di kampung. Saat awal studinya memang tidak sedikit yang
menghardiknya, maneh memulai hari pertama kuliahnya dengan senyuman, dengan
mengenakan rok hitam serta kemeja putih kotak-kotak dan jelbab putih membuat
maneh terlihat anggun dan polos meski di temani kedua tongkatnya kemana saja
dia berpijak.
Maneh telah melewati dua semeter
di bangku kuliah, keadaan maneh yang mempunyai kekurangan fisik itu sudah
terbiasa bagi teman seperjuangannya di kampus tersebut, hal ini membuat maneh
sedikit leluasa, teman-teman sekelasnya pun sangat menyukai sosok maneh yang
lembut dan saling membantu temannya meski kekurangan fisik yang dimilikinya,
namun itu bukanlah suatu penghalang untuk mampu berinteraksi dengan lingkungan
kampusnya.
***
Maneh juga sama halnya dengan
gadis-gadis lain yang ingin dicintai dan mencintai, namun keadaan yang seperti
itu tidak membuatnya terus larut dalam perasaan tersebut, dia tidak ingin virus
merah jambu itu menyerangnya, karena pasti dia pihak yang akan dikecewakan.
Matahari siang ini sungguh panas,
siap membakar siapa saja yang berjalan di bawah teriknya, termasuk maneh yang
sedang menunggu labi-labi dengan teman kelasnya yang biasa di panggil chacha.
“maneh, besok datang ke
rumah ya, ada acara pernikahan kakak
saya”, ujar chacha sambil mengeluarkan kertas merah jambu dari tas kulit
miliknya.
“wah...selamat ya, Insya Allah
saya datang besok tepat waktu,” jawab maneh dengan senyum.
“ucapin selamatnya sama kakak
saya ajaa,,hehehe. Kalo mikir soal pasangan hidup itu ada tiga tahap, disebut
dengan 3S. yang pertama SIAPA AKU, itu terjadi saat kita masih duduk di bangku
SD atau SMP, yang saat datang laki-laki yang ganggu atau menggoda kita,
terlontar cacian dan maki serta cuek dan marah. Trus yang kedua SIAPA DIA, nah
kalo itu aku mengalaminya saat duduk di bangku SMA dan pada tahun pertama
kuliah, pas ada yang deketin langsung cari tau sapa dia, kemudian kalau untuk
yang ketiga....,” chacha memutuskan pembicaraan dengan gelagak tawanya yang
khas.
maneh mulai bingung dengan sikap
chacha, lalu dia berusaha untuk menebak apa yang akan dikatakan temannya itu, lalu
sontak keluar kata-kata dari mulut maneh “ hmmm... yang ketiga pasti SIAPA SAJA,
iya kan?”.
mendengar ucapan maneh, keduanya pun ikut tertawa bersama tanpa memperdulikan lagi cuaca
yang membakar kulit mereka.
sesaat kemudian tawa mereka pun berangsur hilang
dengan melajunya sebuah labi-labi hitam bertuliskan black di depannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar