google-site-verification: googleff753c55c4a9ab1c.html inspirasi_10: Tongkat Berjalan Maneh

Minggu, 06 Mei 2012

Tongkat Berjalan Maneh


Matanya tajam bagaikan anak panah yang siap meluncur, namun tatapannya sama sekali tidak mempunyai makna, semenjak kecelakaan beberapa tahun lalu yang hampir saja merenggut nyawa Putroe Maneh (20), gadis hitam manis yang kerap di sapa maneh oleh penduduk kampungnya, sekarang maneh lebih banyak melakukan pekerjaan melamun, menyendiri di sehelai tikar pandan teras rumahnya.
Kecelakaan itu sudah berlalu selama empat tahun belakangan, namun kenangan itu masih menyisakan hingga kini, apa lagi saat melihat salah satu kakinya yang telah hilang pada saat itu, Maneh merasa sangat terpukul setelah kejadian di simpang “tarok” tersebut.

Hari minggu itu seharusnya menjadi hari yang bahagia baginya karena terpilih menjadi duta pariwisata 2008 dan juga lulus seleksi pertukaran pelajar di Turki melalui perwakilan sekolahnya. Namun kebahagiaan itu sirna lalu berganti menjadi duka, mimpinya selama ini sudah berada di tangan, kemudian hilang tanpa sempat dicicipi sedikitpun olehnya.

Maneh merupakan gadis kampung yang terletak di pesisir barat selatan aceh, dia juluki “bungoeng lam oen” oleh warga sekitar, karena sikapnya yang santun, menghormati orang tua dan jarang bergaul dengan laki-laki seperti gadis lainnya yang saat itu lagi tren dengan kata pacaran. Maneh keluar rumah hanya untuk mengaji dan sekolah saja, hari-harinya dihabiskan di rumah untuk membantu Emaknya yang mengais rejeki melalui racikan masakan, keluarga maneh sering mendapat panggilan di rumah-rumah kenduri untuk di pakai jasanya atau lebih populernya catering, masakan ibunya maneh memang sudah diakui di kampung nan asri tersebut.
Kini maneh kecil telah beranjak dewasa, kecelakaan tahun lalu mengharuskan kakinya diamputasi, hanya dengan berjalan satu kaki dan dua tongkat tidak membuat gadis bermata sipit ini patah semangat dan putus asa, meskipun tidak sedikit orang-orang yang menghardiknya dengan sebutan kaki satu.

Setelah menyelesaikan masa studinya di SMA (Sekolah Menengah Atas), dia ingin sekali melanjutkan pendidikan di Unsyiah (universitas syiah kuala) Banda Aceh, seperti yang diributkan oleh anak-anak kelasnya. Namun keinginannya itu bertentangan dengan kedua orangtuanya, karena Maneh tidak mungkin akan mampu berada jauh dari tempat kelahiran dan orang tuanya.
“mak, lon meuhet that hatee kuliah bak Unsyiah, lon harap mak mengerti,” ungkapnya kepada Emaknya dengan mata berkaca-kaca. “hanjeut neuk,,,keadaan tanyoe berbeda, hana sama lage ureng laen.” Mendengar jawaban itu maneh tidak patah semangat, semangatnya terus menyala bak api yang siap membakar siapa saja yang menghalanginya. Menurut maneh bermimpi itu memang sangat sakit dan sedih  karena sangat susah menggapainya, namun akan lebih sedih jika tidak bermimpi sama sekali, paling tidak telah berusaha semampunya.
***
Seiring waktu berjalan, Emak pun mengizinkan maneh merantau ke kota, meski kekhawatiran yang terus saja menghampirinya, namun melihat keyakinan maneh kekhawatirannya pun berkurang.

Maneh lulus dan menjadi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip), jurusan sastra di kampus yang di juluki jantong Hatee rakyat aceh, yaitu universitas yang di kagum-kaguminya saat sekolah di kampung. Saat awal studinya memang tidak sedikit yang menghardiknya, maneh memulai hari pertama kuliahnya dengan senyuman, dengan mengenakan rok hitam serta kemeja putih kotak-kotak dan jelbab putih membuat maneh terlihat anggun dan polos meski di temani kedua tongkatnya kemana saja dia berpijak.

Maneh telah melewati dua semeter di bangku kuliah, keadaan maneh yang mempunyai kekurangan fisik itu sudah terbiasa bagi teman seperjuangannya di kampus tersebut, hal ini membuat maneh sedikit leluasa, teman-teman sekelasnya pun sangat menyukai sosok maneh yang lembut dan saling membantu temannya meski kekurangan fisik yang dimilikinya, namun itu bukanlah suatu penghalang untuk mampu berinteraksi dengan lingkungan kampusnya.
***
Maneh juga sama halnya dengan gadis-gadis lain yang ingin dicintai dan mencintai, namun keadaan yang seperti itu tidak membuatnya terus larut dalam perasaan tersebut, dia tidak ingin virus merah jambu itu menyerangnya, karena pasti dia pihak yang akan dikecewakan.
Matahari siang ini sungguh panas, siap membakar siapa saja yang berjalan di bawah teriknya, termasuk maneh yang sedang menunggu labi-labi dengan teman kelasnya yang biasa di panggil chacha.

“maneh, besok datang ke rumah  ya, ada acara pernikahan kakak saya”, ujar chacha sambil mengeluarkan kertas merah jambu dari tas kulit miliknya.

“wah...selamat ya, Insya Allah saya datang besok tepat waktu,” jawab maneh dengan senyum.

“ucapin selamatnya sama kakak saya ajaa,,hehehe. Kalo mikir soal pasangan hidup itu ada tiga tahap, disebut dengan 3S. yang pertama SIAPA AKU, itu terjadi saat kita masih duduk di bangku SD atau SMP, yang saat datang laki-laki yang ganggu atau menggoda kita, terlontar cacian dan maki serta cuek dan marah. Trus yang kedua SIAPA DIA, nah kalo itu aku mengalaminya saat duduk di bangku SMA dan pada tahun pertama kuliah, pas ada yang deketin langsung cari tau sapa dia, kemudian kalau untuk yang ketiga....,” chacha memutuskan pembicaraan dengan gelagak tawanya yang khas.

maneh mulai bingung dengan sikap chacha, lalu dia berusaha untuk menebak apa yang akan dikatakan temannya itu, lalu sontak keluar kata-kata dari mulut maneh “ hmmm... yang ketiga pasti SIAPA SAJA, iya kan?”. 

mendengar ucapan maneh, keduanya pun ikut tertawa bersama tanpa memperdulikan lagi cuaca yang membakar kulit mereka.
sesaat kemudian tawa mereka pun berangsur hilang dengan melajunya sebuah labi-labi hitam bertuliskan black di depannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar