Cahaya petir dan suara gemuruh langit terlihat dari celah-celah tirai jendela kamar membuat tubuhku kembali mendekap guling dan mencari selimut untuk menutup mata. pagi itu di sambut dengan perang hujan, lalu pandanganku beralih ke kalender yang menempel di dinding kamar, terlihat tulisannya merah diantara warna hitam yang berarti hari ini libur. Namun alasanku bangun cepat adalah hari ini tetap kuliah meskipun kalender nasional menampakkan wajah merahnya, betapa geramnya saat malam tadi memperoleh info tersebut melalui sms anak kelasku.
Hujan telah berhenti diantara atap-atap rumah, pagi itu dengan make up dan semangat seadanya, ku telusuri jalan darussalam menuju kampus menggunakan supra hitam dengan kecepatan 60 km/jam. seperti dugaanku, mahasiswa terlihat terlantar di luar gedung karena memang ini hari libur dan tak ada ruang kuliah yang terbuka kecuali RKU.
Di sudut kantin RKU beberapa anak sedang membuat barisan seperti dalam bis yang siap berangkat, di dalamnya ada yang cengar cengir, bergosip, bahkan ada juga yang asik dengan komputer jinjing.
Sesaat kemudian kantin yang tidak buka pada hari kosong itu pun dipadati oleh anak kelas Reg A yang merupakan anak-anak sekelas denganku dan diikuti pula tarian angin yang membuat daun-daun menari dan ranting berdendang, membuat jelbab kami bertiup mengikuti tarian angin dan sesekali muncul helai rambut diantara jilbab yang kami kenakan. suasana menjadi dingin, bulu tangan kami berdiri, angin itu berubah menjadi gumpalan hitam dan menurunkan tetes-tetes air, percikan air itu membasahi bangku di depan kami yang di duduki para lelaki, mereka pun menghindari percikannya dan duduk bersebelahan dengan kami.
Hujan semakin membanjiri darussalam, kami terperangkap di dalam kantin yang tidak tersedia makanan dan hanya dihuni oleh Anak-anak reg A, dingin menusuk kulit dan tangis hujan semakin menjadi, beberapa anak menggerutu kuliah hari ini.
Dua jam sudah kami menghabiskan waktu dikantin yang bertempat di samping parit menuju fakultas tehnik, baunya pun sangat luarbiasa ketika tetes hujan mulai menyentuh permukaannya, parit yang sebelumnya kering kemudian basah lalu menciptakan bau yang sangat mengerikan, masuk kehidung lalu menuju otak. Aroma parfum "sweet heart" yang kami gemari berubah menjadi air got yang sungguh menyengat, mungkin jika ada sebatang mawar ataupu melati mereka pun akan dikalahkan oleh bau air hitam yang tak lagi mengalir itu.
Terdengar teriakan kelompok wanita dari ujung dan diikuti kawanan laki-laki yang duduk bersebelahan dengan kami yang saat itu sedang melayang jemarinya diatas papan catur kecil, kami yang duduk agak ke ujung jalan bertanya-tanya apa yang terjadi?, ternyata seseorang baru saja menelepon sang dosen yang mengadakan kuliah hari ini, dan seperti petir yang menyambar saat tadi pagi buta, kabarnya ibu yang akan mengajar itu tidak datang, bersamaan dengan itu terlihat mulut para mahasiswa seperti membaca mantra, mantra kekesalan yang merelakan waktu liburnya tuk menginjak kaki di kampus, padahal cuaca pagi itu sudah memperingatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar