google-site-verification: googleff753c55c4a9ab1c.html inspirasi_10: Indepedensi Mahasiswa

Rabu, 21 Desember 2011

Indepedensi Mahasiswa

MEMPERTANYAKAN INDEPENDENSI MAHASISWA
Pemilu yang akan dilaksanakan bulan Februari 2012 nanti mengundang perhatian Masyarakat dan Mahasiswa, dimana nama Unsyiah disebutkan, dimana spanduk mengatasnamakan rektor Unsyiah ada seluruh daerah di Aceh. Rektor Unsyiah ikut mencalonkan diri menjadi Gubernur, apakah tanggapan para mahasiswa?, jika terpilihnya birokrat (penguasa kampus), apakah perubahan yang terjadi, dan bagaimana nasib msyarakat?
Kondisi yang memprihatinkan, memberi isyarat bahwa kajian terhadap penguasa kampus menjadi sangat penting bagi kampus yang sedang proses perkembangan. Meskipun mengatasnamakan kampus Unsyiah bukan berati kita terperangkap dalam cengkraman penguasa kampus, Mahasiswa harus menentukan sikap berdasarkan pemikiran sendiri, dan bebas dari intervensi pihak lain. Apakah penguasa kampus yang menjabat sebagai Rektor kemudian terjun ke dalam dunia politik tidak berpengaruh nantinya pada kehidupan Masyarakat?apakah ada pengaruh nya antara dunia pendidikan dengan dunia politik?
Masalah seperti ini mengingatkan saya pada kasus Bupati Aceh Barat, yaitu Ramli,ms. Beliau berasal dari pendidikan yaitu Kepala Sekolah yang kemudian mencalonkan diri sebagai Bupati. Setelah beliau terpilih dan menjabat sebagai Bupati Aceh Barat, adakah perubahan yang menonjol?. Mungkin beliau lebih terkenal karena banyak media yang memberitakannya, bahkan saya pernah mengunjungi situs youtube yang disitu terdapat suatu video mengenai pro kontra antara bupati Aceh Barat dengan mahasiswa UTU. Menurut informasi yang saya dapatkan dari kawan saya yang juga termasuk Mahasiswa di UTU, bahwa adanya penyalahgunaan pada uang praktikum mereka, yang seharusnya sudah dibayar bersamaan dengan SPP tapi mereka juga harus mengeluarkan uang sendiri ketika mengikuti praktikum. kemanakah uang Mahasiswa digunakan?. Saya pun berpikir kenapa ini ada hubungannya dengan Bupati, ternyata itu karena beliau merupakan pembina di universitas tersebut. Sedangkan Rektor mereka belum dilantik saat itu, ini informasi yang saya peroleh dari mahasiswa yang juga ada mengikuti demo di kantor bupati pada waktu yang lalu.
Saya tidak bermaksud untuk memihak ataupun menjatuhkan pihak yang terkait dalam tulisan ini, hanya pemikiran saya terhadap kebijakan dan tanggung jawab serta ketidaklalaian dalam melaksanakan tugas. Mahasiswa independen adalah mahasiswa yang bergerak, mahasiswa yang tidak diam melihat kerusakan yang terjadi, karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat.
Mahasiswa harus mampu melihat dirinya jauh lebih dalam sampai ia menyadari bahwa dirinya adalah kaum intelek sekaligus agen perubahan. Dengan bermodalkan kecerdasan, kreativitas, serta militansi, posisi mahasiswa begitu kencang membawa angin perubahan. Kekuatan itu justru terkunci, bahkan rontok digusur rasa takut ketika indepedensi mahasiswa dikesampingkan. Independen yang saya tahu adalah menentukan sikap berdasarkan pemikiran sendiri, bebas dari intervensi pihak manapun.
Dalam masalah ini kita bisa mengambil langkah dengan jalan membangun kelompok mahasiswa yang strategis, dengan demikian ini bisa dijadikan sebagai jembatan bagi pelaksanaan setiap kebijakan-kebijakan administratif dari penguasa kampus dengan aspirasi rakyat. Jika penguasaan kita terhadap lingkungan kampus rendah, maka korupsi akan tumbuh subur, bangunan pendidikan rapuh dan Nepotisme merajalela. Masalah itu terjadi karena kurangnya perhatian dari kalangan mahasiswa itu sendiri.
Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa harus menyadari bahwa kita mempunyai independensi, mungkin selama ini indepedensi kita terkubur, mulai sekarang kita harus menggalinya kembali. Independensi yang kita miliki perlu diimbangi dengan kemampuan yang memadai, kualitas yang cemerlang dan militansi yang tinggi supaya kita tidak dipandang sebelah mata. Dengan demikian, masyarakat kampus bisa merasakan dampak kehadiran kita dikampus dan dimasyarakat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar