Kidung Sunyi Kaki Geurutee
Cerpen Syakhrawil Fadly
Nuraini melirik arloji di tangan kirinya. Alba yang sudah tidak jelas lagi warnanya itu menunjukkan pukul 10.45 pagi. Sebentar lagi bus itu akan berangkat membawa mereka ke pulau Jawa. Sedari tadi mata Nuraini tak henti-hentinya mengawasi tiga puluhan anak yang berbaris rapi siap untuk menaiki bus tersebut.Perempuan semua. Setengah dari mereka adalah santri TPA-nya sewaktu kampung mereka belum hancur dilanda tsunami.Berkali-kali Geuchik Maun mengingatkan Nur agar mendiamkan saja.Tapi Nuraini tidak rela anak didiknya dibawa oleh orang yang tidak jelas cara berpikirnya.Kembali Nuraini mengawasi barisan anak-anak itu.Satu per satu wajah polos nan bersih itu ia cermati.Tetap saja Mutia tak ia temukan dalam barisan itu.Atau, Mutia telah naik lebih dulu ke dalam bus itu.Tidak mungkin, Nuraini yakin Mutia anak yang cerdas.Ia dapat mencerna apa yang pernah nuraini jelaskan padanya.Tapi� di manakah Mutia ?
* * *
Debu pasir dari truk hitam itu belum menghilang ketika segerombolan bocah kecil usia sekolah dasar yang sedari tadi bermain di depan tenda tanpa dikomando langsung membentuk lingkaran mengelilingi truk. Anak-anak itu telah hafal benar, pastilah plastik tebal yang membungkus belakang truk itu penuh berisi bantuan. Sepertinya mereka sangat khawatir jika kejadian kemarin sore terulang kembali. Hampir sepuluh kepala keluarga tidak mendapatkan jatah pembagian bantuan hari itu karena sewaktu dipanggil tidak berada ditempat . Malangnya, bantuan tersebut tetap tidak diberikan lagi walaupun yang bersangkutan telah hadir beberapa saat kemudian.
"Nur�Nuraini !" Suara Mak Sapiah terdengar memanggil anak gadis satu-satunya.
"Bagah kajak laju, awak nyan katroh lom !", "Jangan sampai kita tidak dapat jatah !" Nuraini yang sedang menuang minyak tanah ke dalam kompor menoleh ke arah Mak Sapiah. Jelas sekali terlihat kerut di wajahnya. Namun, mengingat hanya Mak Sapiahlah satu-satunya harta yang berharga di dunia ini yang masih tersisa baginya, diayunkan juga langkahnya menuruti perintah Mak yang paling dicintainya itu.
Kepala posko terlihat sibuk memberikan instruksi agar barang-barang yang sedang diturunkan disusun dengan rapi. Hampir seluruh laki-laki di pengungsian ini ikut membantu menurunkan barang dari setiap truk yang datang.
"Alhamdulillah, kali ini telah datang lagi bantuan untuk kita. Seperti biasa, sebelum bantuan ini dibagikan, kita dengarkan dulu pengarahan dari ketua Yayasan Mawar !" terdengar suara Geuchik Maun membuka acara penyerahan bantuan itu. Tapi aneh, mengapa para wanita saja yang disuruh mendengarkan sambutan itu. Sementara semua laki-laki disuruh mengangkat barang-barang dari dalam truk.
Bagian inilah yang paling dibenci Nuraini. Walaupun telah lima tahun meninggalkan bangku Sekolah Dasar , batinnya menolak semua penjelasan ketua yayasan itu. Kenapa mereka begitu bernafsu agar terlihat sama bahkan lebih hebat dari laki-laki. Kenapa pula kaum perempuan harus mampu melakukan semua yang dilakukan laki-laki. Jika memang lebih hebat, mengapa tak satu pun barang-barang dari truk itu yang sanggup mereka angkat. Bukankah pekerjaan itu hanya sanggup dilakukan oleh laki-laki. Padahal, guru mengajinya dulu�khabar terakhir beliau ditemukan meninggal di atas sajadah dalam meunasah�mengatakan Allah menjadikan laki-laki dan perempuan itu untuk saling melengkapi. Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah kecuali yang lebih bertakwa kepada-Nya.
"Kita kaum perempuan harus berani menunjukkan jati diri. Kita harus melangkah jauh ke depan. Tidak boleh terus dibayang-bayangi oleh kaum laki-laki. Tinggalkan budaya lama yang selalu membuat kita kaum perempuan terkungkung." lantang sekali suara itu terdengar di telinga Nuraini. Tak sanggup lagi Nuraini memperhatikan mulut dengan gincu tebal milik ketua yayasan itu terus saja berkoar-koar seperti tak mengenal lelah.Tak terhitung berapa banyak garis-garis tak beraturan muncul dari kaki Nuraini di tanah tempat ia berdiri.Persis lukisan suasana hatinya saat itu.
"Anak-anak kumpul sebelah sini!" Nuraini tersentak mendengar suara melengking dari ibu muda yang sedari tadi berdiri di samping ketua yayasan itu. Hampir sepertiga dari jumlah barisan antrian tiba-tiba menghilang. Sekitar tiga puluhan anak perempuan memisahkan diri membentuk barisan di bawah komando ibu muda dengan rok merah menyala sebatas paha itu. Nuraini terus saja memerhatikan tingkah laku ibu muda itu. Sesekali tisu di tangan kirinya ditempelkan ke pipinya. Seakan khawatir sekali debu dari tanah kering pengungsian sepuluh kilometer dari kaki Gunung Geurutee ini mengotori make-upnya. Tak satu pun penjelasan dari ketua yayasan tadi yang didengarnya lagi karena samar-samar Nuraini menangkap penjelasan bahwa anak-anak itu akan di sekolahkan ke pulau Jawa. Nuraini tersentak. Ia masih sangat menyayangi santri-santrinya itu. Terlebih setelah sebagian dari mereka tidak memiliki orangtua lagi.
* * *
Tak terhitung lagi berapa kali Nuraini menyapu keringat di kening dengan ujung jilbab putih yang dipakainya. Memang, cuaca daerah di pinggir Samudera Hindia itu pascatsunami menjadi sangat panas. Lokasi pengungsian yang sangat luas dan berbukit-bukit kecil itu hampir habis disusurinya. Tenda demi tenda ia singgahi. Tak satu pun yang mau mendengarkan penjelasannya. Seluruh orang tua lebih tertarik dengan sejumlah uang yang dijanjikan bila bersedia anak mereka di sekolahkan ke pulau Jawa. Apakah risiko hancurnya moral anak-anak mereka nantinya dapat diganti dengan uang yang mereka terima. Padahal, berulang kali relawan-relawan yang telah datang sebelum ini mengingatkan agar waspada terhadap usaha penculikan anak berkedok yayasan sosial.
Dalam keadaan bimbang, berkali-kali Nuraini menyesalkan sikap pemerintah. Hampir dua bulan mereka di pengungsian, belum satu pun sekolah-sekolah darurat yang dibangun. Akhirnya, dengan gamang Nuraini mendatangi tenda Geuchik Maun.
"Apa kamu sanggup memberikan nafkah kepada ureung gampong ini ?" berulang kali pertanyaan itu keluar dari mulut Geuchik Maun membuat hati Nuraini perih.
"Sudah dua bulan kita di sini, baru mereka yang datang membawa bantuan."
"Apakah kita harus berprasangka buruk terhadap orang yang telah menolong ketika kita dalam kesusahan seperti ini ?" Tak satu pun penjelasan Geuchik Maun yang berani dibantahnya.
Satu per satu butiran bening dari mata Nuraini membasahi jilbab putihnya. Terbayang lagi beberapa orang tua yang dijumpainya hampir saja melemparinya dengan batu kalau saja Nuraini tidak cepat melarikan diri. Jangankan mempercayai penjelasannya, malah Nuraini dituduh ingin menghasut. Namun, Nuraini tetap yakin mereka bukanlah orang yang tepat untuk mendidik cucu-cucu Teuku Umar itu. Dan, kenapa yang mau mereka sekolahkan hanya anak perempuan saja. Apakah agar perempuan nantinya lebih hebat dari laki-laki seperti yang mereka maksudkan. Jika benar, pelajaran keadilan seperti apakah yang akan mereka ajarkan kepada anak-anak itu nantinya.
Ah, Nuraini ingat benar, bukankah dulunya Cut Nyak Dhien sangat dihormati oleh kaum laki-laki. Bukan, bukan karena keahlian berperangnya. Apakah mereka tidak pernah mendengar tentang sejarah di pulau mereka sendiri. Seorang putri Jawa yang namanya sangat tersohor sampai ke negeri Belanda. Nuraini tahu persis Cut Nyak Dhien atau Kartini tidak pernah menginginkan agar mereka lebih hebat dari laki-laki. Budi pekertilah yang telah membuat mereka mulia di mata sesama kaum dan lawan jenisnya.
Kilatan harapan tiba-tiba terlihat di bola mata Nuraini. Nuraini masih punya Mutia. Dalam daftar nama anak-anak yang akan disekolahkan ke pulau Jawa yang dilihatnya di posko utama tadi tidak ada nama Mutia. Apakah orang tua Mutia tidak tertarik dengan sejumlah uang yang mereka tawarkan. Tapi, bukankah ayah ibu Mutia telah syahid dalam musibah tsunami ini. Ya, benar, orang-orang mengatakan imum meunasah itu telah tiada. Jasadnya ditemukan seratus meter dari meunasah dan menebarkan bau wangi. Sedangkan ibu Mutia tak seorang pun yang melihat jasadnya.
Tiba-tiba saja, Nuraini seperti tak lagi menginjak bumi. Letih penat tubuhnya setelah mengelilingi kamp pengungsian itu sudah tak terpikirkan lagi. Secepat kilat dipacu langkahnya menuju kali kecil sebelah barat tempat biasanya Mutia terlihat sering bermain.
Mutia gadis kecil berusia 11 tahun itu sangat berbeda dengan santri lainnya. Mutia santri paling cerdas dan paling penurut pada Nuraini, juga paling cantik. Mata dengan warna biru terang itu tidak dimiliki oleh anak-anak yang lain. Hanya keluarga Mutialah yang berani berbaur dengan masyarakat pada umumnya. Sementara kaum mereka yang lain, yang juga bermata biru, lebih senang tinggal di pedalaman dan agak terpisah dengan masyarakat. Tak heran memang, ayah Mutia adalah seorang alim. Karena ketinggian ilmu agamanya itulah, ayah Mutia diangkat sebagai imum meunasah.
Nuraini terus saja menyusuri kali kecil itu yang ujungnya bermuara ke sungai Lam Buso. Gadis kecil bermata biru itu tak mungkin menolak ajakan Nuraini agar tidak ikut dalam rombongan itu. Satu tekad terpatri dalam hati Nuraini. Walaupun ia telah gagal mempertahankan santrinya yang lain, ia masih memiliki Mutia. Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh Mutia, Nuraini bertekad kelak menjadikannya bunga negeri. Agar �harumnya� nanti tersebar sampai ke seluruh nusantara, bahkan sampai ke Portugis, negeri nenek moyangnya itu.
Tapi, di manakah gadis kecilnya itu sekarang. Biasanya dari jarak dua puluh meter seperti ini Nuraini sudah mendengar suara merdu Mutia bernyanyi melafalkan huruf hijaiyah yang diajarkannya dulu. Sambil memanggil-manggil nama Mutia, seluruh sudut ia selidiki. Nuraini tak menemukan Mutia. Ataukah gadis kecil itu pergi lagi ke tenda relawan di kamp pengungsian desa lain dua ratus meter dari pengungsian ini. Mutia pernah cerita pada Nuraini, para relawan di sana mau menolong mencarikan jenazah ibunya. Mutia, di manakah kau berada gadis kecilku.
* * *
Semilir angin pantai barat berhembus perlahan. Dari kejauhan terlihat Gunung Geurutee berdiri gagah seakan menjadi penjaga cucu-cucu Teuku Umar itu. Entah sampai kapan keindahan Gunung Geurutee dapat dinikmati lagi setelah gemuruh meluluh lantakkan jalan yang menghubungkan Lamno dengan Aceh Besar itu.
"Cut Intan, Hayati, Azizah�!" Suara Geuchik Maun yang memanggil anak-anak itu satu per satu untuk menaiki bus terdengar bak halilintar di telinga Nuraini. Perasaannya hancur ketika anak-anak yang masih memiliki orang tua menyalami dan memeluk orang tua mereka. Sementara anak-anak yang tidak lagi memiliki orang tua hanya melambai-lambaikan tangan mungilnya sambil tersenyum. Benar, mereka tersenyum. Mengertikah mereka akan arti lambaian dan senyumannya itu.
Nuraini merasa kekuatan tubuhnya tiba-tiba menghilang. Padahal dengan kedua tangannyalah ia berhasil menyelamatkan ibunya dari timbunan reruntuhan rumah dan gulungan ombak ketika musibah itu datang. Dengan kedua tangannya pula tak terhitung berapa jumlah mayat yang ia angkat. Bahkan para relawan yang katanya dihargai 35.000 rupiah setiap berhasil mengangkat satu mayat, tersenyum malu melihat ketangguhan Nuraini.
Bayang-bayang kecemasan terus menghantui pikiran Nuraini. Tak kuasa ia membayangkan jika nasib santrinya itu akan seperti berita-berita buruk yang pernah didengarnya. Demi Zat yang menguasai jiwa dan bumi yang telah membuat malu para penjajah ini, Nuraini tak pernah rela jika aqidah anak-anak didiknya sampai berubah.
Asap hitam yang ditinggalkan oleh bus itu mengepul tebal di udara. Tubuh Nuraini tiba-tiba limbung. Semuanya gelap dan ringan bagi Nuraini. Ia seakan tak mampu lagi berpijak di bumi. Tetapi samar mata Nuraini menangkap kilatan biru dari mata bocah kecil yang tengah berlari ke arahnya dari arah barat. Oh� mata biru itu. Mata indah itu milik Mutia gadis kecilnya.
* * *
Catatan:
Geuchik :Kepala desa
Bagah kajak laju, awak nyan katroh lom : Pergilah cepat, mereka telah datang lagi
Meunasah: Mushalla/Masjid
Imum Meunasah: Imam mushalla/masjid
Gunung Geurutee : Gunung yang menjadi batas Kab. Aceh Jaya (Lamno) dengan Aceh Besar I
Rabu, 21 Desember 2011
Indepedensi Mahasiswa
MEMPERTANYAKAN INDEPENDENSI MAHASISWA
Pemilu yang akan dilaksanakan bulan Februari 2012 nanti mengundang perhatian Masyarakat dan Mahasiswa, dimana nama Unsyiah disebutkan, dimana spanduk mengatasnamakan rektor Unsyiah ada seluruh daerah di Aceh. Rektor Unsyiah ikut mencalonkan diri menjadi Gubernur, apakah tanggapan para mahasiswa?, jika terpilihnya birokrat (penguasa kampus), apakah perubahan yang terjadi, dan bagaimana nasib msyarakat?
Kondisi yang memprihatinkan, memberi isyarat bahwa kajian terhadap penguasa kampus menjadi sangat penting bagi kampus yang sedang proses perkembangan. Meskipun mengatasnamakan kampus Unsyiah bukan berati kita terperangkap dalam cengkraman penguasa kampus, Mahasiswa harus menentukan sikap berdasarkan pemikiran sendiri, dan bebas dari intervensi pihak lain. Apakah penguasa kampus yang menjabat sebagai Rektor kemudian terjun ke dalam dunia politik tidak berpengaruh nantinya pada kehidupan Masyarakat?apakah ada pengaruh nya antara dunia pendidikan dengan dunia politik?
Masalah seperti ini mengingatkan saya pada kasus Bupati Aceh Barat, yaitu Ramli,ms. Beliau berasal dari pendidikan yaitu Kepala Sekolah yang kemudian mencalonkan diri sebagai Bupati. Setelah beliau terpilih dan menjabat sebagai Bupati Aceh Barat, adakah perubahan yang menonjol?. Mungkin beliau lebih terkenal karena banyak media yang memberitakannya, bahkan saya pernah mengunjungi situs youtube yang disitu terdapat suatu video mengenai pro kontra antara bupati Aceh Barat dengan mahasiswa UTU. Menurut informasi yang saya dapatkan dari kawan saya yang juga termasuk Mahasiswa di UTU, bahwa adanya penyalahgunaan pada uang praktikum mereka, yang seharusnya sudah dibayar bersamaan dengan SPP tapi mereka juga harus mengeluarkan uang sendiri ketika mengikuti praktikum. kemanakah uang Mahasiswa digunakan?. Saya pun berpikir kenapa ini ada hubungannya dengan Bupati, ternyata itu karena beliau merupakan pembina di universitas tersebut. Sedangkan Rektor mereka belum dilantik saat itu, ini informasi yang saya peroleh dari mahasiswa yang juga ada mengikuti demo di kantor bupati pada waktu yang lalu.
Saya tidak bermaksud untuk memihak ataupun menjatuhkan pihak yang terkait dalam tulisan ini, hanya pemikiran saya terhadap kebijakan dan tanggung jawab serta ketidaklalaian dalam melaksanakan tugas. Mahasiswa independen adalah mahasiswa yang bergerak, mahasiswa yang tidak diam melihat kerusakan yang terjadi, karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat.
Mahasiswa harus mampu melihat dirinya jauh lebih dalam sampai ia menyadari bahwa dirinya adalah kaum intelek sekaligus agen perubahan. Dengan bermodalkan kecerdasan, kreativitas, serta militansi, posisi mahasiswa begitu kencang membawa angin perubahan. Kekuatan itu justru terkunci, bahkan rontok digusur rasa takut ketika indepedensi mahasiswa dikesampingkan. Independen yang saya tahu adalah menentukan sikap berdasarkan pemikiran sendiri, bebas dari intervensi pihak manapun.
Dalam masalah ini kita bisa mengambil langkah dengan jalan membangun kelompok mahasiswa yang strategis, dengan demikian ini bisa dijadikan sebagai jembatan bagi pelaksanaan setiap kebijakan-kebijakan administratif dari penguasa kampus dengan aspirasi rakyat. Jika penguasaan kita terhadap lingkungan kampus rendah, maka korupsi akan tumbuh subur, bangunan pendidikan rapuh dan Nepotisme merajalela. Masalah itu terjadi karena kurangnya perhatian dari kalangan mahasiswa itu sendiri.
Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa harus menyadari bahwa kita mempunyai independensi, mungkin selama ini indepedensi kita terkubur, mulai sekarang kita harus menggalinya kembali. Independensi yang kita miliki perlu diimbangi dengan kemampuan yang memadai, kualitas yang cemerlang dan militansi yang tinggi supaya kita tidak dipandang sebelah mata. Dengan demikian, masyarakat kampus bisa merasakan dampak kehadiran kita dikampus dan dimasyarakat.
Sabtu, 17 Desember 2011
Tak Ingin Mengulanginya
hmmm pagi ini adalah pagi dimana minggu yang lalu aku merasakan sesuatu banget (jgn pikir ini hal yg mnyenangkan). sesuatu itu adalah hal yg memalukan. akhirnya ku pasang ancang2 supaya tdk mengulangi lg kejadian itu,,,
sarapan ku hari ini membuat perut ku tersenyum,,trima kasih ya Allah,ternyata hari ni tak seburuk hari yg lalu. kuliat jam masih jam 2,dan kakak ku bergegas ingin pulang dari kamar ku yg kecil dan sederhana,krn aku beda tempat tnggal dgannya.dan tiba-tiba HP ku berdering,oh suara itu tak asing lagi bagi ku...yah dia kawan wkt aq SMA.wah...kebetulan sekali aku suruh dia ke rumah ku sebelum ashar. dan tiitt..tittt..titt (bukan suara tukang es krim,,meskipun aku sngat suka dgn es krim,,,suara klakson nya pun beda,,huft penulis yg aneh,ckckc).
kami pun bergegas menuju kampus kesayangan, dimana tempat kami menuntut ilmu. yah akhirnya aku masuk sendiri krn kawan ku hanya mengantar saja,,hehee...
ini adalah kampus ku, kampus yg megah, mewah, dan paling terkenal di kota ku, tapi kenapa oohh kenapa saat aku mau wudhu, wc kering, kran air kering, oh tidaaakk...ternyata air gak keluar, siapa yg harus bertanggung jawab atas hal ini??sudah lah gak usah di ributkan.braaakk...keluar seseorang dari wc, tanya ku "kakak wudhu disitu?",jawab nya "iya dek, krn ga ada air,yg penting kita pecaya dan yakin aja". mendengar hal itu ya udah aku ikutan wudhu disitu krn emg tmpat lain ga ada air,dn kalo aku plg k rmh pun ga mgkin krn janji ku gak akan mengulangi kejadian mggu yg lalu.... alhamdulillah stelah shalat aku mnuju gedung yg lain utk kuliah,kuliah yg sebenarnya sangat mmbuat ku malu pada senin yg lalu.
huh ternyata di kelas baru aku ank perempuan yg pertama mnyentuh lantai kelas,aku putuskan duduk di luar saja.horeeee,,,akhirnya teman ku irsa dan yus datang juga.
menunggu ampe jam 5 sore,ternyata bapak tu gak datang, usaha aku sia-sia. aku pun pulang,,,,yess, rintik-rintik pun mulai membasahi bumi dan aku kebasahan sebelum nyampek rumah. ku bergegas membuka ricecooker, ohh nasibb, ternyata nasiku sudah berubah menjadi emas (jgn kalian pikir bisa di jual),aku baru ingat tentang colokan nya,,,karena semalam aku menginap di rumah sakit...semua ku bereskan, hingga akhirnya ku ambil teman ku dan mulai mngetik tulisan ini.
semoga senin depan aku menemukan pangeran,,opss salah maksud nya semoga senin depan aku menemukan sesuatu banget (jangan coba2 berpikiran ini copas syahrini,krn saya dngar ini dari nenek saya),,sesuatu yg membuat saia luar biasa,,:)
sarapan ku hari ini membuat perut ku tersenyum,,trima kasih ya Allah,ternyata hari ni tak seburuk hari yg lalu. kuliat jam masih jam 2,dan kakak ku bergegas ingin pulang dari kamar ku yg kecil dan sederhana,krn aku beda tempat tnggal dgannya.dan tiba-tiba HP ku berdering,oh suara itu tak asing lagi bagi ku...yah dia kawan wkt aq SMA.wah...kebetulan sekali aku suruh dia ke rumah ku sebelum ashar. dan tiitt..tittt..titt (bukan suara tukang es krim,,meskipun aku sngat suka dgn es krim,,,suara klakson nya pun beda,,huft penulis yg aneh,ckckc).
kami pun bergegas menuju kampus kesayangan, dimana tempat kami menuntut ilmu. yah akhirnya aku masuk sendiri krn kawan ku hanya mengantar saja,,hehee...
ini adalah kampus ku, kampus yg megah, mewah, dan paling terkenal di kota ku, tapi kenapa oohh kenapa saat aku mau wudhu, wc kering, kran air kering, oh tidaaakk...ternyata air gak keluar, siapa yg harus bertanggung jawab atas hal ini??sudah lah gak usah di ributkan.braaakk...keluar seseorang dari wc, tanya ku "kakak wudhu disitu?",jawab nya "iya dek, krn ga ada air,yg penting kita pecaya dan yakin aja". mendengar hal itu ya udah aku ikutan wudhu disitu krn emg tmpat lain ga ada air,dn kalo aku plg k rmh pun ga mgkin krn janji ku gak akan mengulangi kejadian mggu yg lalu.... alhamdulillah stelah shalat aku mnuju gedung yg lain utk kuliah,kuliah yg sebenarnya sangat mmbuat ku malu pada senin yg lalu.
huh ternyata di kelas baru aku ank perempuan yg pertama mnyentuh lantai kelas,aku putuskan duduk di luar saja.horeeee,,,akhirnya teman ku irsa dan yus datang juga.
menunggu ampe jam 5 sore,ternyata bapak tu gak datang, usaha aku sia-sia. aku pun pulang,,,,yess, rintik-rintik pun mulai membasahi bumi dan aku kebasahan sebelum nyampek rumah. ku bergegas membuka ricecooker, ohh nasibb, ternyata nasiku sudah berubah menjadi emas (jgn kalian pikir bisa di jual),aku baru ingat tentang colokan nya,,,karena semalam aku menginap di rumah sakit...semua ku bereskan, hingga akhirnya ku ambil teman ku dan mulai mngetik tulisan ini.
semoga senin depan aku menemukan pangeran,,opss salah maksud nya semoga senin depan aku menemukan sesuatu banget (jangan coba2 berpikiran ini copas syahrini,krn saya dngar ini dari nenek saya),,sesuatu yg membuat saia luar biasa,,:)
Langganan:
Komentar (Atom)