Berikut ini adalah pengalaman menulis surat cinta pertama saya,hehhee. surat cinta pertama kepada orang yang sama sekali tidak saya kenal, yeyeye ini surat cinta kepada asisten laboratorium fisika, agak bingung pertamanya untuk memilih salah seorang dari mereka untuk ditulisi surat cinta, hmmm pikir dan pikir-pikir, itung kancing baju,,jiaaakkkk ini hasilnya
Namanya hasan, bukan hasan dan husen seperti lagu rafly dan cucu nabi, tapi dia adalah asisten lab ketika saya mengambil mata kuliah praktikum fisika dasar, suitt..suitt.
eitss..ini hanya untuk have fun aja ya, dalam rangka hari terakhir pertemuan dengan abang-abang dan kakak-kakak asisten tidak mengandung unsur belerang, racun atau pun virus merah jambu,hehhehe
Sabtu, 26 Mei 2012
Selasa, 22 Mei 2012
Topeng Sandiwara
Mulutmu mengeluarkan bisa
Hingga meracuni pendengar
Lidahku kelu tak berucap
diam tak bergerak
Topeng yang kau kenakan
Ternyata hanya indah diluar
Pantas saja semua terpana
Saat kau bicara semua menganga
Darahku mengucur, namun tak terlihat
Akupun ikut bersandiwara
lewat pasangan mata dan air
Kini kau tertawa dibalik topeng sandiwara
Hingga meracuni pendengar
Lidahku kelu tak berucap
diam tak bergerak
Topeng yang kau kenakan
Ternyata hanya indah diluar
Pantas saja semua terpana
Saat kau bicara semua menganga
Darahku mengucur, namun tak terlihat
Akupun ikut bersandiwara
lewat pasangan mata dan air
Kini kau tertawa dibalik topeng sandiwara
Jumat, 18 Mei 2012
Ngekampus di Hari Merah
Cahaya petir dan suara gemuruh langit terlihat dari celah-celah tirai jendela kamar membuat tubuhku kembali mendekap guling dan mencari selimut untuk menutup mata. pagi itu di sambut dengan perang hujan, lalu pandanganku beralih ke kalender yang menempel di dinding kamar, terlihat tulisannya merah diantara warna hitam yang berarti hari ini libur. Namun alasanku bangun cepat adalah hari ini tetap kuliah meskipun kalender nasional menampakkan wajah merahnya, betapa geramnya saat malam tadi memperoleh info tersebut melalui sms anak kelasku.
Hujan telah berhenti diantara atap-atap rumah, pagi itu dengan make up dan semangat seadanya, ku telusuri jalan darussalam menuju kampus menggunakan supra hitam dengan kecepatan 60 km/jam. seperti dugaanku, mahasiswa terlihat terlantar di luar gedung karena memang ini hari libur dan tak ada ruang kuliah yang terbuka kecuali RKU.
Di sudut kantin RKU beberapa anak sedang membuat barisan seperti dalam bis yang siap berangkat, di dalamnya ada yang cengar cengir, bergosip, bahkan ada juga yang asik dengan komputer jinjing.
Sesaat kemudian kantin yang tidak buka pada hari kosong itu pun dipadati oleh anak kelas Reg A yang merupakan anak-anak sekelas denganku dan diikuti pula tarian angin yang membuat daun-daun menari dan ranting berdendang, membuat jelbab kami bertiup mengikuti tarian angin dan sesekali muncul helai rambut diantara jilbab yang kami kenakan. suasana menjadi dingin, bulu tangan kami berdiri, angin itu berubah menjadi gumpalan hitam dan menurunkan tetes-tetes air, percikan air itu membasahi bangku di depan kami yang di duduki para lelaki, mereka pun menghindari percikannya dan duduk bersebelahan dengan kami.
Hujan semakin membanjiri darussalam, kami terperangkap di dalam kantin yang tidak tersedia makanan dan hanya dihuni oleh Anak-anak reg A, dingin menusuk kulit dan tangis hujan semakin menjadi, beberapa anak menggerutu kuliah hari ini.
Dua jam sudah kami menghabiskan waktu dikantin yang bertempat di samping parit menuju fakultas tehnik, baunya pun sangat luarbiasa ketika tetes hujan mulai menyentuh permukaannya, parit yang sebelumnya kering kemudian basah lalu menciptakan bau yang sangat mengerikan, masuk kehidung lalu menuju otak. Aroma parfum "sweet heart" yang kami gemari berubah menjadi air got yang sungguh menyengat, mungkin jika ada sebatang mawar ataupu melati mereka pun akan dikalahkan oleh bau air hitam yang tak lagi mengalir itu.
Terdengar teriakan kelompok wanita dari ujung dan diikuti kawanan laki-laki yang duduk bersebelahan dengan kami yang saat itu sedang melayang jemarinya diatas papan catur kecil, kami yang duduk agak ke ujung jalan bertanya-tanya apa yang terjadi?, ternyata seseorang baru saja menelepon sang dosen yang mengadakan kuliah hari ini, dan seperti petir yang menyambar saat tadi pagi buta, kabarnya ibu yang akan mengajar itu tidak datang, bersamaan dengan itu terlihat mulut para mahasiswa seperti membaca mantra, mantra kekesalan yang merelakan waktu liburnya tuk menginjak kaki di kampus, padahal cuaca pagi itu sudah memperingatkan.
Hujan telah berhenti diantara atap-atap rumah, pagi itu dengan make up dan semangat seadanya, ku telusuri jalan darussalam menuju kampus menggunakan supra hitam dengan kecepatan 60 km/jam. seperti dugaanku, mahasiswa terlihat terlantar di luar gedung karena memang ini hari libur dan tak ada ruang kuliah yang terbuka kecuali RKU.
Di sudut kantin RKU beberapa anak sedang membuat barisan seperti dalam bis yang siap berangkat, di dalamnya ada yang cengar cengir, bergosip, bahkan ada juga yang asik dengan komputer jinjing.
Sesaat kemudian kantin yang tidak buka pada hari kosong itu pun dipadati oleh anak kelas Reg A yang merupakan anak-anak sekelas denganku dan diikuti pula tarian angin yang membuat daun-daun menari dan ranting berdendang, membuat jelbab kami bertiup mengikuti tarian angin dan sesekali muncul helai rambut diantara jilbab yang kami kenakan. suasana menjadi dingin, bulu tangan kami berdiri, angin itu berubah menjadi gumpalan hitam dan menurunkan tetes-tetes air, percikan air itu membasahi bangku di depan kami yang di duduki para lelaki, mereka pun menghindari percikannya dan duduk bersebelahan dengan kami.
Hujan semakin membanjiri darussalam, kami terperangkap di dalam kantin yang tidak tersedia makanan dan hanya dihuni oleh Anak-anak reg A, dingin menusuk kulit dan tangis hujan semakin menjadi, beberapa anak menggerutu kuliah hari ini.
Dua jam sudah kami menghabiskan waktu dikantin yang bertempat di samping parit menuju fakultas tehnik, baunya pun sangat luarbiasa ketika tetes hujan mulai menyentuh permukaannya, parit yang sebelumnya kering kemudian basah lalu menciptakan bau yang sangat mengerikan, masuk kehidung lalu menuju otak. Aroma parfum "sweet heart" yang kami gemari berubah menjadi air got yang sungguh menyengat, mungkin jika ada sebatang mawar ataupu melati mereka pun akan dikalahkan oleh bau air hitam yang tak lagi mengalir itu.
Terdengar teriakan kelompok wanita dari ujung dan diikuti kawanan laki-laki yang duduk bersebelahan dengan kami yang saat itu sedang melayang jemarinya diatas papan catur kecil, kami yang duduk agak ke ujung jalan bertanya-tanya apa yang terjadi?, ternyata seseorang baru saja menelepon sang dosen yang mengadakan kuliah hari ini, dan seperti petir yang menyambar saat tadi pagi buta, kabarnya ibu yang akan mengajar itu tidak datang, bersamaan dengan itu terlihat mulut para mahasiswa seperti membaca mantra, mantra kekesalan yang merelakan waktu liburnya tuk menginjak kaki di kampus, padahal cuaca pagi itu sudah memperingatkan.
Mungkin aku memang tak bakat
Yah, disini aku bisa menulis sebebasnya, sesuka hatiku tanpa ada yang mengedit, ataupun memotong apa yang ku tulis, meskipun yang kutulis itu adalah "sampah" namun tidak ada orang yang mampu membersihkan kekotoran yang ku buat sendiri. berbeda halnya dengan tulisan yang ku kirim ke suatu media, yang merupakan wadah tempatku mengasah kemampuan yang masih sangat dangkal dan muda. mungkin ada beberapa berita yang ku tulis dimuat bukan karena kelayakannya tapi agar tumbuh semangatku untuk terus menulis, terkadang tulisanku juga memusingkan para editor hingga tingkat dewa,hehehee....
okee, tak jadi soal karena akupun sudah siap untuk itu, namun ketika jerih payah ku memburu berita dan kendala dalam penulisanku semakin rumit dan tulisanku benar-benar tidak dimuat, aku mulai jenuh untuk melakukan pekerjaan itu, dan semangatku mulai turun, ternyata memang aku tak bakat.
entahlah, sudah beberapa minggu ini aku melalaikan tugasku sebagai anggota muda, alasan ku sangat kuat, tapi sederhana yaitu sibuk dan capek, alasan ini sebenarnya mengandung arti yang mendalam dan terletak jauh di dasar hati,hanya ku yang mampu memahami, menyelam apa yang terjadi.
mungkin memang lebih bagusnya kalau aku menulis hanya untuk diri sendiri, tanpa diketahui oleh orang lain karena aku semakin takut untuk menulis apalagi kemampuanku jauh ketinggalan, dan terkadang macet seperti lampu lalu lintas yang ditimpa kemacetan yang sangat panjang, kadang aku berpikir kenapa menulis itu susah padahal waktu kecil itu adalah pekerjaan yang rutin, bahkan aku mempunyai dua buku diary yang kemudian dicuri oleh temanku, dan dibacanya diam-diam.
tapi disini aku bebas menulis, meskipun sampah tulisanku memenuhi kolom ini, kotor karena tertulisi oleh hal yang mungkin tak penting.
okee, tak jadi soal karena akupun sudah siap untuk itu, namun ketika jerih payah ku memburu berita dan kendala dalam penulisanku semakin rumit dan tulisanku benar-benar tidak dimuat, aku mulai jenuh untuk melakukan pekerjaan itu, dan semangatku mulai turun, ternyata memang aku tak bakat.
entahlah, sudah beberapa minggu ini aku melalaikan tugasku sebagai anggota muda, alasan ku sangat kuat, tapi sederhana yaitu sibuk dan capek, alasan ini sebenarnya mengandung arti yang mendalam dan terletak jauh di dasar hati,hanya ku yang mampu memahami, menyelam apa yang terjadi.
mungkin memang lebih bagusnya kalau aku menulis hanya untuk diri sendiri, tanpa diketahui oleh orang lain karena aku semakin takut untuk menulis apalagi kemampuanku jauh ketinggalan, dan terkadang macet seperti lampu lalu lintas yang ditimpa kemacetan yang sangat panjang, kadang aku berpikir kenapa menulis itu susah padahal waktu kecil itu adalah pekerjaan yang rutin, bahkan aku mempunyai dua buku diary yang kemudian dicuri oleh temanku, dan dibacanya diam-diam.
tapi disini aku bebas menulis, meskipun sampah tulisanku memenuhi kolom ini, kotor karena tertulisi oleh hal yang mungkin tak penting.
kau diantara peranmu
Senyumku tak biasa hari ini
Apalagi tingkahku saat ini
Terkadang tertawa dikala sendiri
Kesunyianku kau ketuk dengan hati
Kau bisa jadi Ayah bagiku
Mengetahui titik kenakalanku
Kau bisa jadi teman baikku
Selalu ada saat aku butuh
Kau juga bisa jadi guru
Selalu memberi kultum segar
Membimbing ke arah yang benar
Membuat hidup menjadi lebih tegar
Dan kau juga pengamatku
Di segala sudut tingkahku
Bahkan saat lupa menyerang
Seperti catatan kau mengingatkanku
Kau kirim bintang sebagai penerang malamku
Hingga fajar tiba dan ayam mulai gaduh
Tet. . . tet. . .tet . . .
Sebuah suara bersumber dari telepon genggamku
Kau membangunkanku diantara kumandang
azan yang merdu...
bertalu di setiap menasah kampung ini
Apalagi tingkahku saat ini
Terkadang tertawa dikala sendiri
Kesunyianku kau ketuk dengan hati
Kau bisa jadi Ayah bagiku
Mengetahui titik kenakalanku
Kau bisa jadi teman baikku
Selalu ada saat aku butuh
Kau juga bisa jadi guru
Selalu memberi kultum segar
Membimbing ke arah yang benar
Membuat hidup menjadi lebih tegar
Dan kau juga pengamatku
Di segala sudut tingkahku
Bahkan saat lupa menyerang
Seperti catatan kau mengingatkanku
Kau kirim bintang sebagai penerang malamku
Hingga fajar tiba dan ayam mulai gaduh
Tet. . . tet. . .tet . . .
Sebuah suara bersumber dari telepon genggamku
Kau membangunkanku diantara kumandang
azan yang merdu...
bertalu di setiap menasah kampung ini
Rabu, 09 Mei 2012
three "s" cafetaria
Duduk di kantin kampus merupakan
kebiasaan mahasiswa pada umumnya, selain menambal perut yang kosong juga
bertemu dengan teman yang banyak dikenal. Namun, tidak semua kantin di kampus
menyediakan makanan yang mengenyangkan dengan harga yang relatif mumer alias
murah meriah.
Salah satu kantin yang
menyediakan menu super duper murah yang
terjangkau bagi kantong mahasiswa dapat kita jumpai di gedung Pendidikan
Kesejahteraan Keluarga (PKK) lantai 1 di
laboratorium boga, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (Fkip) Unsyiah. Kantin
tersebut dikelola oleh mahasiswa semester 6 jurusan tata boga Fkip Unsyiah,
yang terdiri dari 8 orang, mereka dibagi 2 kelompok. Lokasinya yang agak
tertutup karena bertempat di dalam gedung kuliah membuat tidak banyak mahasiswa
yang mengetahui keberadaan kantin ini.
Anasirlia istia dona, mahasiswa Fkip
matematika yang mengaku bahwa mengetahui keberadaan kantin itu saat mengikuti
mata kuliah di laboratorium komputer
yang berada di atas kantin tersebut “awalnya saya tidak tau ada kantin
disitu, tapi tiba-tiba ada kawan yang ngajak makan pas mau naik ke lab kom
atas,” ujarnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh fifi arsita, “saya mengetahui
ada kantin disitu waktu masuk aplikasi komputer (aplikom), sebelumnya ada juga
liat ada menu makanan di tulis di pintu masuknya, tapi tidak begitu peduli pas
masuk aplikom baru nampak ternyata ada kantin di dalamnya” ujar mahasiswa
pendidikan biologi tersebut.
Nazirah mengatakan lokasi yang demikian di
karenakan pengelolaan itu merupakan bagian dari mata kuliah prasyarat yang
harus mereka lalui sejak semester 6-7, dan sesekali dosen dari jurusan penganan
ini juga ikut mengontrol kegiatan mereka setiap hari.
Kantin yang bernama three “s”
cafetaria itu buka setiap hari senin-jumat
mulai pukul 07.00-17.00 wib “kami membuka hanya sampai hari jumat saja, karena
sabtu itu kami melakukan pembukuan dan hari istirahat bagi kami” ujar
nazirah,salah satu pengelola kantin.
Menu utama kantin ini tersedia
nasi gurih, nasi soto dan nasi goreng yang berkisar Rp 4500/porsi hingga
Rp5000/porsi serta bisa menyuruput teh hangat gratis untuk setiap pengunjung
yang memesan salah satu dari ketiga menu tersebut. selain itu juga tersedia
berbagai minuman mulai dari Rp 500-3000, dan macam kue serta makanan ringan lainnya.
Bagi mahasiswa yang ingin membeli alat tulis pun juga tersedia di kantin yang
dikelola oleh mahasiswa jurusan tata boga tersebut. “kita disini di lingkungan
masyarakat,kami tidak mencari untung namun hanya untuk kebutuhan dan untuk
memenuhi nilai mata kuliah saja” tutur nazirah.
“menguntungkan bagi mahasiswa,
makanannya juga enak selain itu juga disajikan teh manisnya, kalau untuk sarapan
udah cocok lah pas sama kantong mahasiswa,” ujar irsa fitra yang baru sekali
mencicipi penganan yang disajikan di kantin itu.
Untuk menu yang dihidangkan,
biasanya mereka selang seling ada saatnya menyediakan nasi goreng dan ada
saatnya menyediakan nasi soto “kalo hari nasi goreng maka banyak yang memesan
nasi goreng, mereka sudah tau hari apa kami menyediakan nasi goreng, namun tergantung
juga saat kami sanggup maka soto pun
juga tersedia,” tambahnya. Pengunjung yang menikmati hidangan di kantin ini perharinya
bisa mencapai 30 hingga 45 orang.
selain di fkip, kantin yang dikelola
oleh mereka juga bisa dijumpai di sekolah
SMA labschool unsyiah yang bertempat di jalan inong balee, setiap minggunya
mereka bergantian dengan kelompoknya, satu kelompok menjaga di fkip dan satunya
lagi berada di kantin labschool. “jadi, di labschool itu kantinnya juga punya
orang kami kantin PKK,” ujar yuni yang merupakan satu kelompok dengan nazirah.
Minggu, 06 Mei 2012
Air oh air, kenapa seperti ini
aku sudah tak tahan lagi, peristiwa seperti ini terus saja terjadi, bahkan aku telah menunggu ber jam-jam hingga tertidur seperti yang terjadi hari ini hanya untuk menunggu air naik ke atas. jika aku mengatakan air naik ke atas tentu saja tidak mungkin, bukankah sifat air itu dari dataran tinggi pasti akan mengalir menuju dataran rendah, namun itu yang terjadi di kos ku, air berasal dari bawah yaitu rumah ibuk kos dinaikkan ke atas dimana tempat kami tinggal, jika air di bawah di hidupkan, maka air tak akan naik ke kamar mandi atas punya kami.
oke, itu tak jadi soal, yang sangat menganggu hari ini adalah dari tadi mati lampu dan itu bertanda air pun tak hidup, ketika hidup air segera ibuk kos menggunakan mesin cucinya, nah apabila mesin itu telah di jalankan maka kami tidak boleh membuka kran air di kamar mandi atas, hmm lalu bagaimana jika ada yang pergi kuliah lalu tidak ada air??gampang saja, hanya tinggal potokopi langsung berangkat, itu sering saya lakukan jika air tak ada,hehehhe.
aku benar-benar tidak tahan lagi, segera ku turun ke bawah dan ternyata mesin cuci itu telah berhenti dari pekerjaannya, maka segera ku cabut silang nya dari kran air di kamar mandi itu dan memutuskan untuk menggunakan kamar mandi bawah saja, baru saja baju dilepas langsung terdengar suara orang ngedor-ngedor pintu kamar mandi sambil teriak-teriak seperti kebakaran, oh ternyata itu suara ibuk kos, mengapa dengan saya??apa karena belum bayar uang listrik bulan ini?.
"heii...siapa di dalam? bagaimana kamu cabut krannya, coba buka pintunya ibuk mau liat kran itu, jangan-jangan kamu salah cabut", teriak ibuk kos dari luar.
"ya cabut seperti biasa, mau gimana lagi emangnya," jawabku sedikit takut.
kemudian tidak menunggu lama segera pintu ku buka, dengan hanya menggunakan handuk langsung saja ibuk kos menerobos masuk ke dalam kamar mandi kecil itu, tanpa memperhatikan posisi ku berdiri, dia langsung menuju kran air yang menghubungkan antara mesin cuci dan kran air kamar mandi.
"oh jadi jeut neu cabut, pike hanjeut saknyo", kata ibuk kos dlm bahasa aceh saat mengetahui aku yang berada di dalam.
"kiban buk, na betoi lage nyan cara caboet jih?", jawab ku lega.
"ka betoi nyan,,ka lanjutkan lom beuh," ujar ibuk kos sambil tersenyum dan meninggalkan aku di sudut pintu kamar mandi.
sungguh betapa takutnya aku saat itu, karena memang sebelumnya tidak ada anak kos yang bisa dan mampu membuka penghubung kran itu, karena memang sulit, kalau tidak hati-hati maka kran mesin cuci atau pun kran air bak mandi itu akan patah, bahkan anak ibuk tersebut tidak begitu mahir juga melepaskan penghubung kran itu, itu terbukti pada saat ibuk kos pulang ke kampung nya beberapa waktu lalu.
oke, itu tak jadi soal, yang sangat menganggu hari ini adalah dari tadi mati lampu dan itu bertanda air pun tak hidup, ketika hidup air segera ibuk kos menggunakan mesin cucinya, nah apabila mesin itu telah di jalankan maka kami tidak boleh membuka kran air di kamar mandi atas, hmm lalu bagaimana jika ada yang pergi kuliah lalu tidak ada air??gampang saja, hanya tinggal potokopi langsung berangkat, itu sering saya lakukan jika air tak ada,hehehhe.
aku benar-benar tidak tahan lagi, segera ku turun ke bawah dan ternyata mesin cuci itu telah berhenti dari pekerjaannya, maka segera ku cabut silang nya dari kran air di kamar mandi itu dan memutuskan untuk menggunakan kamar mandi bawah saja, baru saja baju dilepas langsung terdengar suara orang ngedor-ngedor pintu kamar mandi sambil teriak-teriak seperti kebakaran, oh ternyata itu suara ibuk kos, mengapa dengan saya??apa karena belum bayar uang listrik bulan ini?.
"heii...siapa di dalam? bagaimana kamu cabut krannya, coba buka pintunya ibuk mau liat kran itu, jangan-jangan kamu salah cabut", teriak ibuk kos dari luar.
"ya cabut seperti biasa, mau gimana lagi emangnya," jawabku sedikit takut.
kemudian tidak menunggu lama segera pintu ku buka, dengan hanya menggunakan handuk langsung saja ibuk kos menerobos masuk ke dalam kamar mandi kecil itu, tanpa memperhatikan posisi ku berdiri, dia langsung menuju kran air yang menghubungkan antara mesin cuci dan kran air kamar mandi.
"oh jadi jeut neu cabut, pike hanjeut saknyo", kata ibuk kos dlm bahasa aceh saat mengetahui aku yang berada di dalam.
"kiban buk, na betoi lage nyan cara caboet jih?", jawab ku lega.
"ka betoi nyan,,ka lanjutkan lom beuh," ujar ibuk kos sambil tersenyum dan meninggalkan aku di sudut pintu kamar mandi.
sungguh betapa takutnya aku saat itu, karena memang sebelumnya tidak ada anak kos yang bisa dan mampu membuka penghubung kran itu, karena memang sulit, kalau tidak hati-hati maka kran mesin cuci atau pun kran air bak mandi itu akan patah, bahkan anak ibuk tersebut tidak begitu mahir juga melepaskan penghubung kran itu, itu terbukti pada saat ibuk kos pulang ke kampung nya beberapa waktu lalu.
Tongkat Berjalan Maneh
Matanya tajam bagaikan anak panah
yang siap meluncur, namun tatapannya sama sekali tidak mempunyai makna,
semenjak kecelakaan beberapa tahun lalu yang hampir saja merenggut nyawa Putroe
Maneh (20), gadis hitam manis yang kerap di sapa maneh oleh penduduk
kampungnya, sekarang maneh lebih banyak melakukan pekerjaan melamun, menyendiri
di sehelai tikar pandan teras rumahnya.
Kecelakaan itu sudah berlalu
selama empat tahun belakangan, namun kenangan itu masih menyisakan hingga kini,
apa lagi saat melihat salah satu kakinya yang telah hilang pada saat itu, Maneh
merasa sangat terpukul setelah kejadian di simpang “tarok” tersebut.
Hari minggu itu seharusnya
menjadi hari yang bahagia baginya karena terpilih menjadi duta pariwisata 2008
dan juga lulus seleksi pertukaran pelajar di Turki melalui perwakilan
sekolahnya. Namun kebahagiaan itu sirna lalu berganti menjadi duka, mimpinya
selama ini sudah berada di tangan, kemudian hilang tanpa sempat dicicipi
sedikitpun olehnya.
Maneh merupakan gadis kampung
yang terletak di pesisir barat selatan aceh, dia juluki “bungoeng lam oen” oleh
warga sekitar, karena sikapnya yang santun, menghormati orang tua dan jarang
bergaul dengan laki-laki seperti gadis lainnya yang saat itu lagi tren dengan
kata pacaran. Maneh keluar rumah hanya untuk mengaji dan sekolah saja,
hari-harinya dihabiskan di rumah untuk membantu Emaknya yang mengais rejeki
melalui racikan masakan, keluarga maneh sering mendapat panggilan di
rumah-rumah kenduri untuk di pakai jasanya atau lebih populernya catering,
masakan ibunya maneh memang sudah diakui di kampung nan asri tersebut.
Kini maneh kecil telah beranjak
dewasa, kecelakaan tahun lalu mengharuskan kakinya diamputasi, hanya dengan
berjalan satu kaki dan dua tongkat tidak membuat gadis bermata sipit ini patah
semangat dan putus asa, meskipun tidak sedikit orang-orang yang menghardiknya
dengan sebutan kaki satu.
Setelah menyelesaikan masa
studinya di SMA (Sekolah Menengah Atas), dia ingin sekali melanjutkan
pendidikan di Unsyiah (universitas syiah kuala) Banda Aceh, seperti yang
diributkan oleh anak-anak kelasnya. Namun keinginannya itu bertentangan dengan
kedua orangtuanya, karena Maneh tidak mungkin akan mampu berada jauh dari
tempat kelahiran dan orang tuanya.
“mak, lon meuhet that hatee
kuliah bak Unsyiah, lon harap mak mengerti,” ungkapnya kepada Emaknya dengan
mata berkaca-kaca. “hanjeut neuk,,,keadaan tanyoe berbeda, hana sama lage ureng
laen.” Mendengar jawaban itu maneh tidak patah semangat, semangatnya terus
menyala bak api yang siap membakar siapa saja yang menghalanginya. Menurut
maneh bermimpi itu memang sangat sakit dan sedih karena sangat susah menggapainya, namun akan
lebih sedih jika tidak bermimpi sama sekali, paling tidak telah berusaha
semampunya.
***
Seiring waktu berjalan, Emak pun
mengizinkan maneh merantau ke kota, meski kekhawatiran yang terus saja
menghampirinya, namun melihat keyakinan maneh kekhawatirannya pun berkurang.
Maneh lulus dan menjadi mahasiswa
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip), jurusan sastra di kampus yang di
juluki jantong Hatee rakyat aceh, yaitu universitas yang di kagum-kaguminya
saat sekolah di kampung. Saat awal studinya memang tidak sedikit yang
menghardiknya, maneh memulai hari pertama kuliahnya dengan senyuman, dengan
mengenakan rok hitam serta kemeja putih kotak-kotak dan jelbab putih membuat
maneh terlihat anggun dan polos meski di temani kedua tongkatnya kemana saja
dia berpijak.
Maneh telah melewati dua semeter
di bangku kuliah, keadaan maneh yang mempunyai kekurangan fisik itu sudah
terbiasa bagi teman seperjuangannya di kampus tersebut, hal ini membuat maneh
sedikit leluasa, teman-teman sekelasnya pun sangat menyukai sosok maneh yang
lembut dan saling membantu temannya meski kekurangan fisik yang dimilikinya,
namun itu bukanlah suatu penghalang untuk mampu berinteraksi dengan lingkungan
kampusnya.
***
Maneh juga sama halnya dengan
gadis-gadis lain yang ingin dicintai dan mencintai, namun keadaan yang seperti
itu tidak membuatnya terus larut dalam perasaan tersebut, dia tidak ingin virus
merah jambu itu menyerangnya, karena pasti dia pihak yang akan dikecewakan.
Matahari siang ini sungguh panas,
siap membakar siapa saja yang berjalan di bawah teriknya, termasuk maneh yang
sedang menunggu labi-labi dengan teman kelasnya yang biasa di panggil chacha.
“maneh, besok datang ke
rumah ya, ada acara pernikahan kakak
saya”, ujar chacha sambil mengeluarkan kertas merah jambu dari tas kulit
miliknya.
“wah...selamat ya, Insya Allah
saya datang besok tepat waktu,” jawab maneh dengan senyum.
“ucapin selamatnya sama kakak
saya ajaa,,hehehe. Kalo mikir soal pasangan hidup itu ada tiga tahap, disebut
dengan 3S. yang pertama SIAPA AKU, itu terjadi saat kita masih duduk di bangku
SD atau SMP, yang saat datang laki-laki yang ganggu atau menggoda kita,
terlontar cacian dan maki serta cuek dan marah. Trus yang kedua SIAPA DIA, nah
kalo itu aku mengalaminya saat duduk di bangku SMA dan pada tahun pertama
kuliah, pas ada yang deketin langsung cari tau sapa dia, kemudian kalau untuk
yang ketiga....,” chacha memutuskan pembicaraan dengan gelagak tawanya yang
khas.
maneh mulai bingung dengan sikap
chacha, lalu dia berusaha untuk menebak apa yang akan dikatakan temannya itu, lalu
sontak keluar kata-kata dari mulut maneh “ hmmm... yang ketiga pasti SIAPA SAJA,
iya kan?”.
mendengar ucapan maneh, keduanya pun ikut tertawa bersama tanpa memperdulikan lagi cuaca
yang membakar kulit mereka.
sesaat kemudian tawa mereka pun berangsur hilang
dengan melajunya sebuah labi-labi hitam bertuliskan black di depannya.
Jumat, 20 April 2012
BERPETUALANG DI HUTAN KATA
Entah sejak kapan aku mulai berpetualang di semak belukar kata
Dan aku jua tak menyadari kapan diriku menelusuri hutan belantara
Belantara hutan yang ditumbuhi segudang cerita
Belantara hutan yang ditumbuhi sejuta makna
Siapakah yang mengetuk kesunyianku?
Hingga aku berpetualang mencarinya
Dan terus melangkah dalam perjalanan kata
Akankah aku mampu berpetualang di semak ini
Ataukah aku akan kesasar dan tak tau arah jalan ini
Sampai saat ini aku masih tetap berjalan
Menyelusuri lembah cerita, melewati gunung kebingungan
Mencari inspirasi yang masih terkubur
Berusaha membangunkan potensi yang masih tertidur
Dan aku jua tak menyadari kapan diriku menelusuri hutan belantara
Belantara hutan yang ditumbuhi segudang cerita
Belantara hutan yang ditumbuhi sejuta makna
Siapakah yang mengetuk kesunyianku?
Hingga aku berpetualang mencarinya
Dan terus melangkah dalam perjalanan kata
Akankah aku mampu berpetualang di semak ini
Ataukah aku akan kesasar dan tak tau arah jalan ini
Sampai saat ini aku masih tetap berjalan
Menyelusuri lembah cerita, melewati gunung kebingungan
Mencari inspirasi yang masih terkubur
Berusaha membangunkan potensi yang masih tertidur
Senin, 26 Maret 2012
Serpihan Rasamu Ternyata Melukai
Aku rasa memang tidak perlu menulis tentang dirimu
Karena memang tak penting bagiku
Tapi sikap keterlaluan mu itu mengharuskan aku sedikit bercerita
Bercerita tentang sikapmu yang telah menaruh derita
mungkin aku tau apa sebab dari semua ini
namun apakah kamu harus seperti ini
berusaha membuat ku cemburu
berusaha menyimpulkan sikapku
berusaha menebakku
berusaha mengerti diriku
salah...
kau itu tak lebih dari seorang pecundang
kau buat aku tertantang
yah, aku memang tak menaruh dendam
namun hanya sedikit kesal yang terpendam
sejuta pertanyaan keluar namun tak dapat kau dengar
apakah aku pernah menyakitimu?
apakah aku pernah mengecewakanmu?
apakah aku mengabaikanmu?
Pasti kau akan menjawab “iya”
namun pernah kah aku menaruh harapan kosong ataupun memberikan kalimat dusta terhadapmu?, aku tak ingin berdusta kalau aku memang tidak mempunyai perasaan untukmu.
Dan aku...
Aku tak pernah menghina kamu tentang kejelekanmu
Aku tak pernah menyalahkan suatu peristiwa karena kesalahanmu
Aku juga tak pernah mengatakan “pantesan orang kost kamu tidak suka terhadapmu”
Kau terlalu jauh, dan kau tak akan mengerti ku
Sungguh beruntung aku tidak mempunyai rasa untukmu
Karena jika tidak maka mungkin aku orang paling bodoh
Aku pun menyesal pernah sedikit bercerita tentangku
Yang seharusnya tak perlu ku ceritakan padamu
Hingga akhirnya kau menertawakanku
Terima kasih atas ucapanmu yang pedas meskipun tak langsung
Dan terima kasih atas kebaikan-kebaikanmu
Aku lelah, tak ingin lagi aku menguak cerita ini.
Karena memang tak penting bagiku
Tapi sikap keterlaluan mu itu mengharuskan aku sedikit bercerita
Bercerita tentang sikapmu yang telah menaruh derita
mungkin aku tau apa sebab dari semua ini
namun apakah kamu harus seperti ini
berusaha membuat ku cemburu
berusaha menyimpulkan sikapku
berusaha menebakku
berusaha mengerti diriku
salah...
kau itu tak lebih dari seorang pecundang
kau buat aku tertantang
yah, aku memang tak menaruh dendam
namun hanya sedikit kesal yang terpendam
sejuta pertanyaan keluar namun tak dapat kau dengar
apakah aku pernah menyakitimu?
apakah aku pernah mengecewakanmu?
apakah aku mengabaikanmu?
Pasti kau akan menjawab “iya”
namun pernah kah aku menaruh harapan kosong ataupun memberikan kalimat dusta terhadapmu?, aku tak ingin berdusta kalau aku memang tidak mempunyai perasaan untukmu.
Dan aku...
Aku tak pernah menghina kamu tentang kejelekanmu
Aku tak pernah menyalahkan suatu peristiwa karena kesalahanmu
Aku juga tak pernah mengatakan “pantesan orang kost kamu tidak suka terhadapmu”
Kau terlalu jauh, dan kau tak akan mengerti ku
Sungguh beruntung aku tidak mempunyai rasa untukmu
Karena jika tidak maka mungkin aku orang paling bodoh
Aku pun menyesal pernah sedikit bercerita tentangku
Yang seharusnya tak perlu ku ceritakan padamu
Hingga akhirnya kau menertawakanku
Terima kasih atas ucapanmu yang pedas meskipun tak langsung
Dan terima kasih atas kebaikan-kebaikanmu
Aku lelah, tak ingin lagi aku menguak cerita ini.
Jumat, 17 Februari 2012
TAMAN YANG TERABAIKAN
Beberapa waktu yang lalu ketika kami melintasi taman yang berada tak jauh dari area kampus, seakan dia menyadari kehadiran kami, mungkin juga dia sedang menjerit seolah berkata “kalian hanya ingin menikmati aku tanpa pedulikan aku,,, tidakkah kau lihat sampah yang kau tinggalkan, rerumputan yang kau biarkan menghiasi tubuhku”.
Disana terlihat beberapa dedaunan yang merelakan kawan tua nya berjatuhan
Disana terlihat beberapa orang anak bergelagak tawa diantara semilir angin
Disana juga terdengar kicauan burung bertalu diantara sunyinya taman ini
***
Sesekali sengaja aku kembali melewati taman itu seusai jam kuliah
Ku coba hidupkan seri yang mugkin dulu ada bunga cinta bersemi
Tapi semua seakan lemah...
Ku perhatikan taman dengan dentingan bertalu diantara pepohonan yang bisu
Disana hanya terlihat beberapa orang yang latihan basket dan terkadang juga beberapa orang yang latihan skyboard, namun coba lihat di tengah taman itu,,,matahari menyelinap masuk dari celah-celah daun, menyelimuti tempat bermain itu, membiarkan rerumputan menikmati sendiri tanpa embun, karna embun telah dilenyapkan oleh sang matahari
Tidak adakah disini sekuntum bunga yang merekah?
Aku bertanya pada kunang-kunang yang tak memperlihatkan cahayanya
Mana mungkin mendapat jawaban, sedangkan dia tak tau apa yang harus dikatakan
Kemudian,,,aku pun meninggalkan taman
Dengan harapan saat kembali
Akan terlihat bunga yang bersemi
Rabu, 21 Desember 2011
Cerpen karya anak meulaboh (juara harapan)
Kidung Sunyi Kaki Geurutee
Cerpen Syakhrawil Fadly
Nuraini melirik arloji di tangan kirinya. Alba yang sudah tidak jelas lagi warnanya itu menunjukkan pukul 10.45 pagi. Sebentar lagi bus itu akan berangkat membawa mereka ke pulau Jawa. Sedari tadi mata Nuraini tak henti-hentinya mengawasi tiga puluhan anak yang berbaris rapi siap untuk menaiki bus tersebut.Perempuan semua. Setengah dari mereka adalah santri TPA-nya sewaktu kampung mereka belum hancur dilanda tsunami.Berkali-kali Geuchik Maun mengingatkan Nur agar mendiamkan saja.Tapi Nuraini tidak rela anak didiknya dibawa oleh orang yang tidak jelas cara berpikirnya.Kembali Nuraini mengawasi barisan anak-anak itu.Satu per satu wajah polos nan bersih itu ia cermati.Tetap saja Mutia tak ia temukan dalam barisan itu.Atau, Mutia telah naik lebih dulu ke dalam bus itu.Tidak mungkin, Nuraini yakin Mutia anak yang cerdas.Ia dapat mencerna apa yang pernah nuraini jelaskan padanya.Tapi� di manakah Mutia ?
* * *
Debu pasir dari truk hitam itu belum menghilang ketika segerombolan bocah kecil usia sekolah dasar yang sedari tadi bermain di depan tenda tanpa dikomando langsung membentuk lingkaran mengelilingi truk. Anak-anak itu telah hafal benar, pastilah plastik tebal yang membungkus belakang truk itu penuh berisi bantuan. Sepertinya mereka sangat khawatir jika kejadian kemarin sore terulang kembali. Hampir sepuluh kepala keluarga tidak mendapatkan jatah pembagian bantuan hari itu karena sewaktu dipanggil tidak berada ditempat . Malangnya, bantuan tersebut tetap tidak diberikan lagi walaupun yang bersangkutan telah hadir beberapa saat kemudian.
"Nur�Nuraini !" Suara Mak Sapiah terdengar memanggil anak gadis satu-satunya.
"Bagah kajak laju, awak nyan katroh lom !", "Jangan sampai kita tidak dapat jatah !" Nuraini yang sedang menuang minyak tanah ke dalam kompor menoleh ke arah Mak Sapiah. Jelas sekali terlihat kerut di wajahnya. Namun, mengingat hanya Mak Sapiahlah satu-satunya harta yang berharga di dunia ini yang masih tersisa baginya, diayunkan juga langkahnya menuruti perintah Mak yang paling dicintainya itu.
Kepala posko terlihat sibuk memberikan instruksi agar barang-barang yang sedang diturunkan disusun dengan rapi. Hampir seluruh laki-laki di pengungsian ini ikut membantu menurunkan barang dari setiap truk yang datang.
"Alhamdulillah, kali ini telah datang lagi bantuan untuk kita. Seperti biasa, sebelum bantuan ini dibagikan, kita dengarkan dulu pengarahan dari ketua Yayasan Mawar !" terdengar suara Geuchik Maun membuka acara penyerahan bantuan itu. Tapi aneh, mengapa para wanita saja yang disuruh mendengarkan sambutan itu. Sementara semua laki-laki disuruh mengangkat barang-barang dari dalam truk.
Bagian inilah yang paling dibenci Nuraini. Walaupun telah lima tahun meninggalkan bangku Sekolah Dasar , batinnya menolak semua penjelasan ketua yayasan itu. Kenapa mereka begitu bernafsu agar terlihat sama bahkan lebih hebat dari laki-laki. Kenapa pula kaum perempuan harus mampu melakukan semua yang dilakukan laki-laki. Jika memang lebih hebat, mengapa tak satu pun barang-barang dari truk itu yang sanggup mereka angkat. Bukankah pekerjaan itu hanya sanggup dilakukan oleh laki-laki. Padahal, guru mengajinya dulu�khabar terakhir beliau ditemukan meninggal di atas sajadah dalam meunasah�mengatakan Allah menjadikan laki-laki dan perempuan itu untuk saling melengkapi. Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah kecuali yang lebih bertakwa kepada-Nya.
"Kita kaum perempuan harus berani menunjukkan jati diri. Kita harus melangkah jauh ke depan. Tidak boleh terus dibayang-bayangi oleh kaum laki-laki. Tinggalkan budaya lama yang selalu membuat kita kaum perempuan terkungkung." lantang sekali suara itu terdengar di telinga Nuraini. Tak sanggup lagi Nuraini memperhatikan mulut dengan gincu tebal milik ketua yayasan itu terus saja berkoar-koar seperti tak mengenal lelah.Tak terhitung berapa banyak garis-garis tak beraturan muncul dari kaki Nuraini di tanah tempat ia berdiri.Persis lukisan suasana hatinya saat itu.
"Anak-anak kumpul sebelah sini!" Nuraini tersentak mendengar suara melengking dari ibu muda yang sedari tadi berdiri di samping ketua yayasan itu. Hampir sepertiga dari jumlah barisan antrian tiba-tiba menghilang. Sekitar tiga puluhan anak perempuan memisahkan diri membentuk barisan di bawah komando ibu muda dengan rok merah menyala sebatas paha itu. Nuraini terus saja memerhatikan tingkah laku ibu muda itu. Sesekali tisu di tangan kirinya ditempelkan ke pipinya. Seakan khawatir sekali debu dari tanah kering pengungsian sepuluh kilometer dari kaki Gunung Geurutee ini mengotori make-upnya. Tak satu pun penjelasan dari ketua yayasan tadi yang didengarnya lagi karena samar-samar Nuraini menangkap penjelasan bahwa anak-anak itu akan di sekolahkan ke pulau Jawa. Nuraini tersentak. Ia masih sangat menyayangi santri-santrinya itu. Terlebih setelah sebagian dari mereka tidak memiliki orangtua lagi.
* * *
Tak terhitung lagi berapa kali Nuraini menyapu keringat di kening dengan ujung jilbab putih yang dipakainya. Memang, cuaca daerah di pinggir Samudera Hindia itu pascatsunami menjadi sangat panas. Lokasi pengungsian yang sangat luas dan berbukit-bukit kecil itu hampir habis disusurinya. Tenda demi tenda ia singgahi. Tak satu pun yang mau mendengarkan penjelasannya. Seluruh orang tua lebih tertarik dengan sejumlah uang yang dijanjikan bila bersedia anak mereka di sekolahkan ke pulau Jawa. Apakah risiko hancurnya moral anak-anak mereka nantinya dapat diganti dengan uang yang mereka terima. Padahal, berulang kali relawan-relawan yang telah datang sebelum ini mengingatkan agar waspada terhadap usaha penculikan anak berkedok yayasan sosial.
Dalam keadaan bimbang, berkali-kali Nuraini menyesalkan sikap pemerintah. Hampir dua bulan mereka di pengungsian, belum satu pun sekolah-sekolah darurat yang dibangun. Akhirnya, dengan gamang Nuraini mendatangi tenda Geuchik Maun.
"Apa kamu sanggup memberikan nafkah kepada ureung gampong ini ?" berulang kali pertanyaan itu keluar dari mulut Geuchik Maun membuat hati Nuraini perih.
"Sudah dua bulan kita di sini, baru mereka yang datang membawa bantuan."
"Apakah kita harus berprasangka buruk terhadap orang yang telah menolong ketika kita dalam kesusahan seperti ini ?" Tak satu pun penjelasan Geuchik Maun yang berani dibantahnya.
Satu per satu butiran bening dari mata Nuraini membasahi jilbab putihnya. Terbayang lagi beberapa orang tua yang dijumpainya hampir saja melemparinya dengan batu kalau saja Nuraini tidak cepat melarikan diri. Jangankan mempercayai penjelasannya, malah Nuraini dituduh ingin menghasut. Namun, Nuraini tetap yakin mereka bukanlah orang yang tepat untuk mendidik cucu-cucu Teuku Umar itu. Dan, kenapa yang mau mereka sekolahkan hanya anak perempuan saja. Apakah agar perempuan nantinya lebih hebat dari laki-laki seperti yang mereka maksudkan. Jika benar, pelajaran keadilan seperti apakah yang akan mereka ajarkan kepada anak-anak itu nantinya.
Ah, Nuraini ingat benar, bukankah dulunya Cut Nyak Dhien sangat dihormati oleh kaum laki-laki. Bukan, bukan karena keahlian berperangnya. Apakah mereka tidak pernah mendengar tentang sejarah di pulau mereka sendiri. Seorang putri Jawa yang namanya sangat tersohor sampai ke negeri Belanda. Nuraini tahu persis Cut Nyak Dhien atau Kartini tidak pernah menginginkan agar mereka lebih hebat dari laki-laki. Budi pekertilah yang telah membuat mereka mulia di mata sesama kaum dan lawan jenisnya.
Kilatan harapan tiba-tiba terlihat di bola mata Nuraini. Nuraini masih punya Mutia. Dalam daftar nama anak-anak yang akan disekolahkan ke pulau Jawa yang dilihatnya di posko utama tadi tidak ada nama Mutia. Apakah orang tua Mutia tidak tertarik dengan sejumlah uang yang mereka tawarkan. Tapi, bukankah ayah ibu Mutia telah syahid dalam musibah tsunami ini. Ya, benar, orang-orang mengatakan imum meunasah itu telah tiada. Jasadnya ditemukan seratus meter dari meunasah dan menebarkan bau wangi. Sedangkan ibu Mutia tak seorang pun yang melihat jasadnya.
Tiba-tiba saja, Nuraini seperti tak lagi menginjak bumi. Letih penat tubuhnya setelah mengelilingi kamp pengungsian itu sudah tak terpikirkan lagi. Secepat kilat dipacu langkahnya menuju kali kecil sebelah barat tempat biasanya Mutia terlihat sering bermain.
Mutia gadis kecil berusia 11 tahun itu sangat berbeda dengan santri lainnya. Mutia santri paling cerdas dan paling penurut pada Nuraini, juga paling cantik. Mata dengan warna biru terang itu tidak dimiliki oleh anak-anak yang lain. Hanya keluarga Mutialah yang berani berbaur dengan masyarakat pada umumnya. Sementara kaum mereka yang lain, yang juga bermata biru, lebih senang tinggal di pedalaman dan agak terpisah dengan masyarakat. Tak heran memang, ayah Mutia adalah seorang alim. Karena ketinggian ilmu agamanya itulah, ayah Mutia diangkat sebagai imum meunasah.
Nuraini terus saja menyusuri kali kecil itu yang ujungnya bermuara ke sungai Lam Buso. Gadis kecil bermata biru itu tak mungkin menolak ajakan Nuraini agar tidak ikut dalam rombongan itu. Satu tekad terpatri dalam hati Nuraini. Walaupun ia telah gagal mempertahankan santrinya yang lain, ia masih memiliki Mutia. Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh Mutia, Nuraini bertekad kelak menjadikannya bunga negeri. Agar �harumnya� nanti tersebar sampai ke seluruh nusantara, bahkan sampai ke Portugis, negeri nenek moyangnya itu.
Tapi, di manakah gadis kecilnya itu sekarang. Biasanya dari jarak dua puluh meter seperti ini Nuraini sudah mendengar suara merdu Mutia bernyanyi melafalkan huruf hijaiyah yang diajarkannya dulu. Sambil memanggil-manggil nama Mutia, seluruh sudut ia selidiki. Nuraini tak menemukan Mutia. Ataukah gadis kecil itu pergi lagi ke tenda relawan di kamp pengungsian desa lain dua ratus meter dari pengungsian ini. Mutia pernah cerita pada Nuraini, para relawan di sana mau menolong mencarikan jenazah ibunya. Mutia, di manakah kau berada gadis kecilku.
* * *
Semilir angin pantai barat berhembus perlahan. Dari kejauhan terlihat Gunung Geurutee berdiri gagah seakan menjadi penjaga cucu-cucu Teuku Umar itu. Entah sampai kapan keindahan Gunung Geurutee dapat dinikmati lagi setelah gemuruh meluluh lantakkan jalan yang menghubungkan Lamno dengan Aceh Besar itu.
"Cut Intan, Hayati, Azizah�!" Suara Geuchik Maun yang memanggil anak-anak itu satu per satu untuk menaiki bus terdengar bak halilintar di telinga Nuraini. Perasaannya hancur ketika anak-anak yang masih memiliki orang tua menyalami dan memeluk orang tua mereka. Sementara anak-anak yang tidak lagi memiliki orang tua hanya melambai-lambaikan tangan mungilnya sambil tersenyum. Benar, mereka tersenyum. Mengertikah mereka akan arti lambaian dan senyumannya itu.
Nuraini merasa kekuatan tubuhnya tiba-tiba menghilang. Padahal dengan kedua tangannyalah ia berhasil menyelamatkan ibunya dari timbunan reruntuhan rumah dan gulungan ombak ketika musibah itu datang. Dengan kedua tangannya pula tak terhitung berapa jumlah mayat yang ia angkat. Bahkan para relawan yang katanya dihargai 35.000 rupiah setiap berhasil mengangkat satu mayat, tersenyum malu melihat ketangguhan Nuraini.
Bayang-bayang kecemasan terus menghantui pikiran Nuraini. Tak kuasa ia membayangkan jika nasib santrinya itu akan seperti berita-berita buruk yang pernah didengarnya. Demi Zat yang menguasai jiwa dan bumi yang telah membuat malu para penjajah ini, Nuraini tak pernah rela jika aqidah anak-anak didiknya sampai berubah.
Asap hitam yang ditinggalkan oleh bus itu mengepul tebal di udara. Tubuh Nuraini tiba-tiba limbung. Semuanya gelap dan ringan bagi Nuraini. Ia seakan tak mampu lagi berpijak di bumi. Tetapi samar mata Nuraini menangkap kilatan biru dari mata bocah kecil yang tengah berlari ke arahnya dari arah barat. Oh� mata biru itu. Mata indah itu milik Mutia gadis kecilnya.
* * *
Catatan:
Geuchik :Kepala desa
Bagah kajak laju, awak nyan katroh lom : Pergilah cepat, mereka telah datang lagi
Meunasah: Mushalla/Masjid
Imum Meunasah: Imam mushalla/masjid
Gunung Geurutee : Gunung yang menjadi batas Kab. Aceh Jaya (Lamno) dengan Aceh Besar I
Cerpen Syakhrawil Fadly
Nuraini melirik arloji di tangan kirinya. Alba yang sudah tidak jelas lagi warnanya itu menunjukkan pukul 10.45 pagi. Sebentar lagi bus itu akan berangkat membawa mereka ke pulau Jawa. Sedari tadi mata Nuraini tak henti-hentinya mengawasi tiga puluhan anak yang berbaris rapi siap untuk menaiki bus tersebut.Perempuan semua. Setengah dari mereka adalah santri TPA-nya sewaktu kampung mereka belum hancur dilanda tsunami.Berkali-kali Geuchik Maun mengingatkan Nur agar mendiamkan saja.Tapi Nuraini tidak rela anak didiknya dibawa oleh orang yang tidak jelas cara berpikirnya.Kembali Nuraini mengawasi barisan anak-anak itu.Satu per satu wajah polos nan bersih itu ia cermati.Tetap saja Mutia tak ia temukan dalam barisan itu.Atau, Mutia telah naik lebih dulu ke dalam bus itu.Tidak mungkin, Nuraini yakin Mutia anak yang cerdas.Ia dapat mencerna apa yang pernah nuraini jelaskan padanya.Tapi� di manakah Mutia ?
* * *
Debu pasir dari truk hitam itu belum menghilang ketika segerombolan bocah kecil usia sekolah dasar yang sedari tadi bermain di depan tenda tanpa dikomando langsung membentuk lingkaran mengelilingi truk. Anak-anak itu telah hafal benar, pastilah plastik tebal yang membungkus belakang truk itu penuh berisi bantuan. Sepertinya mereka sangat khawatir jika kejadian kemarin sore terulang kembali. Hampir sepuluh kepala keluarga tidak mendapatkan jatah pembagian bantuan hari itu karena sewaktu dipanggil tidak berada ditempat . Malangnya, bantuan tersebut tetap tidak diberikan lagi walaupun yang bersangkutan telah hadir beberapa saat kemudian.
"Nur�Nuraini !" Suara Mak Sapiah terdengar memanggil anak gadis satu-satunya.
"Bagah kajak laju, awak nyan katroh lom !", "Jangan sampai kita tidak dapat jatah !" Nuraini yang sedang menuang minyak tanah ke dalam kompor menoleh ke arah Mak Sapiah. Jelas sekali terlihat kerut di wajahnya. Namun, mengingat hanya Mak Sapiahlah satu-satunya harta yang berharga di dunia ini yang masih tersisa baginya, diayunkan juga langkahnya menuruti perintah Mak yang paling dicintainya itu.
Kepala posko terlihat sibuk memberikan instruksi agar barang-barang yang sedang diturunkan disusun dengan rapi. Hampir seluruh laki-laki di pengungsian ini ikut membantu menurunkan barang dari setiap truk yang datang.
"Alhamdulillah, kali ini telah datang lagi bantuan untuk kita. Seperti biasa, sebelum bantuan ini dibagikan, kita dengarkan dulu pengarahan dari ketua Yayasan Mawar !" terdengar suara Geuchik Maun membuka acara penyerahan bantuan itu. Tapi aneh, mengapa para wanita saja yang disuruh mendengarkan sambutan itu. Sementara semua laki-laki disuruh mengangkat barang-barang dari dalam truk.
Bagian inilah yang paling dibenci Nuraini. Walaupun telah lima tahun meninggalkan bangku Sekolah Dasar , batinnya menolak semua penjelasan ketua yayasan itu. Kenapa mereka begitu bernafsu agar terlihat sama bahkan lebih hebat dari laki-laki. Kenapa pula kaum perempuan harus mampu melakukan semua yang dilakukan laki-laki. Jika memang lebih hebat, mengapa tak satu pun barang-barang dari truk itu yang sanggup mereka angkat. Bukankah pekerjaan itu hanya sanggup dilakukan oleh laki-laki. Padahal, guru mengajinya dulu�khabar terakhir beliau ditemukan meninggal di atas sajadah dalam meunasah�mengatakan Allah menjadikan laki-laki dan perempuan itu untuk saling melengkapi. Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah kecuali yang lebih bertakwa kepada-Nya.
"Kita kaum perempuan harus berani menunjukkan jati diri. Kita harus melangkah jauh ke depan. Tidak boleh terus dibayang-bayangi oleh kaum laki-laki. Tinggalkan budaya lama yang selalu membuat kita kaum perempuan terkungkung." lantang sekali suara itu terdengar di telinga Nuraini. Tak sanggup lagi Nuraini memperhatikan mulut dengan gincu tebal milik ketua yayasan itu terus saja berkoar-koar seperti tak mengenal lelah.Tak terhitung berapa banyak garis-garis tak beraturan muncul dari kaki Nuraini di tanah tempat ia berdiri.Persis lukisan suasana hatinya saat itu.
"Anak-anak kumpul sebelah sini!" Nuraini tersentak mendengar suara melengking dari ibu muda yang sedari tadi berdiri di samping ketua yayasan itu. Hampir sepertiga dari jumlah barisan antrian tiba-tiba menghilang. Sekitar tiga puluhan anak perempuan memisahkan diri membentuk barisan di bawah komando ibu muda dengan rok merah menyala sebatas paha itu. Nuraini terus saja memerhatikan tingkah laku ibu muda itu. Sesekali tisu di tangan kirinya ditempelkan ke pipinya. Seakan khawatir sekali debu dari tanah kering pengungsian sepuluh kilometer dari kaki Gunung Geurutee ini mengotori make-upnya. Tak satu pun penjelasan dari ketua yayasan tadi yang didengarnya lagi karena samar-samar Nuraini menangkap penjelasan bahwa anak-anak itu akan di sekolahkan ke pulau Jawa. Nuraini tersentak. Ia masih sangat menyayangi santri-santrinya itu. Terlebih setelah sebagian dari mereka tidak memiliki orangtua lagi.
* * *
Tak terhitung lagi berapa kali Nuraini menyapu keringat di kening dengan ujung jilbab putih yang dipakainya. Memang, cuaca daerah di pinggir Samudera Hindia itu pascatsunami menjadi sangat panas. Lokasi pengungsian yang sangat luas dan berbukit-bukit kecil itu hampir habis disusurinya. Tenda demi tenda ia singgahi. Tak satu pun yang mau mendengarkan penjelasannya. Seluruh orang tua lebih tertarik dengan sejumlah uang yang dijanjikan bila bersedia anak mereka di sekolahkan ke pulau Jawa. Apakah risiko hancurnya moral anak-anak mereka nantinya dapat diganti dengan uang yang mereka terima. Padahal, berulang kali relawan-relawan yang telah datang sebelum ini mengingatkan agar waspada terhadap usaha penculikan anak berkedok yayasan sosial.
Dalam keadaan bimbang, berkali-kali Nuraini menyesalkan sikap pemerintah. Hampir dua bulan mereka di pengungsian, belum satu pun sekolah-sekolah darurat yang dibangun. Akhirnya, dengan gamang Nuraini mendatangi tenda Geuchik Maun.
"Apa kamu sanggup memberikan nafkah kepada ureung gampong ini ?" berulang kali pertanyaan itu keluar dari mulut Geuchik Maun membuat hati Nuraini perih.
"Sudah dua bulan kita di sini, baru mereka yang datang membawa bantuan."
"Apakah kita harus berprasangka buruk terhadap orang yang telah menolong ketika kita dalam kesusahan seperti ini ?" Tak satu pun penjelasan Geuchik Maun yang berani dibantahnya.
Satu per satu butiran bening dari mata Nuraini membasahi jilbab putihnya. Terbayang lagi beberapa orang tua yang dijumpainya hampir saja melemparinya dengan batu kalau saja Nuraini tidak cepat melarikan diri. Jangankan mempercayai penjelasannya, malah Nuraini dituduh ingin menghasut. Namun, Nuraini tetap yakin mereka bukanlah orang yang tepat untuk mendidik cucu-cucu Teuku Umar itu. Dan, kenapa yang mau mereka sekolahkan hanya anak perempuan saja. Apakah agar perempuan nantinya lebih hebat dari laki-laki seperti yang mereka maksudkan. Jika benar, pelajaran keadilan seperti apakah yang akan mereka ajarkan kepada anak-anak itu nantinya.
Ah, Nuraini ingat benar, bukankah dulunya Cut Nyak Dhien sangat dihormati oleh kaum laki-laki. Bukan, bukan karena keahlian berperangnya. Apakah mereka tidak pernah mendengar tentang sejarah di pulau mereka sendiri. Seorang putri Jawa yang namanya sangat tersohor sampai ke negeri Belanda. Nuraini tahu persis Cut Nyak Dhien atau Kartini tidak pernah menginginkan agar mereka lebih hebat dari laki-laki. Budi pekertilah yang telah membuat mereka mulia di mata sesama kaum dan lawan jenisnya.
Kilatan harapan tiba-tiba terlihat di bola mata Nuraini. Nuraini masih punya Mutia. Dalam daftar nama anak-anak yang akan disekolahkan ke pulau Jawa yang dilihatnya di posko utama tadi tidak ada nama Mutia. Apakah orang tua Mutia tidak tertarik dengan sejumlah uang yang mereka tawarkan. Tapi, bukankah ayah ibu Mutia telah syahid dalam musibah tsunami ini. Ya, benar, orang-orang mengatakan imum meunasah itu telah tiada. Jasadnya ditemukan seratus meter dari meunasah dan menebarkan bau wangi. Sedangkan ibu Mutia tak seorang pun yang melihat jasadnya.
Tiba-tiba saja, Nuraini seperti tak lagi menginjak bumi. Letih penat tubuhnya setelah mengelilingi kamp pengungsian itu sudah tak terpikirkan lagi. Secepat kilat dipacu langkahnya menuju kali kecil sebelah barat tempat biasanya Mutia terlihat sering bermain.
Mutia gadis kecil berusia 11 tahun itu sangat berbeda dengan santri lainnya. Mutia santri paling cerdas dan paling penurut pada Nuraini, juga paling cantik. Mata dengan warna biru terang itu tidak dimiliki oleh anak-anak yang lain. Hanya keluarga Mutialah yang berani berbaur dengan masyarakat pada umumnya. Sementara kaum mereka yang lain, yang juga bermata biru, lebih senang tinggal di pedalaman dan agak terpisah dengan masyarakat. Tak heran memang, ayah Mutia adalah seorang alim. Karena ketinggian ilmu agamanya itulah, ayah Mutia diangkat sebagai imum meunasah.
Nuraini terus saja menyusuri kali kecil itu yang ujungnya bermuara ke sungai Lam Buso. Gadis kecil bermata biru itu tak mungkin menolak ajakan Nuraini agar tidak ikut dalam rombongan itu. Satu tekad terpatri dalam hati Nuraini. Walaupun ia telah gagal mempertahankan santrinya yang lain, ia masih memiliki Mutia. Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh Mutia, Nuraini bertekad kelak menjadikannya bunga negeri. Agar �harumnya� nanti tersebar sampai ke seluruh nusantara, bahkan sampai ke Portugis, negeri nenek moyangnya itu.
Tapi, di manakah gadis kecilnya itu sekarang. Biasanya dari jarak dua puluh meter seperti ini Nuraini sudah mendengar suara merdu Mutia bernyanyi melafalkan huruf hijaiyah yang diajarkannya dulu. Sambil memanggil-manggil nama Mutia, seluruh sudut ia selidiki. Nuraini tak menemukan Mutia. Ataukah gadis kecil itu pergi lagi ke tenda relawan di kamp pengungsian desa lain dua ratus meter dari pengungsian ini. Mutia pernah cerita pada Nuraini, para relawan di sana mau menolong mencarikan jenazah ibunya. Mutia, di manakah kau berada gadis kecilku.
* * *
Semilir angin pantai barat berhembus perlahan. Dari kejauhan terlihat Gunung Geurutee berdiri gagah seakan menjadi penjaga cucu-cucu Teuku Umar itu. Entah sampai kapan keindahan Gunung Geurutee dapat dinikmati lagi setelah gemuruh meluluh lantakkan jalan yang menghubungkan Lamno dengan Aceh Besar itu.
"Cut Intan, Hayati, Azizah�!" Suara Geuchik Maun yang memanggil anak-anak itu satu per satu untuk menaiki bus terdengar bak halilintar di telinga Nuraini. Perasaannya hancur ketika anak-anak yang masih memiliki orang tua menyalami dan memeluk orang tua mereka. Sementara anak-anak yang tidak lagi memiliki orang tua hanya melambai-lambaikan tangan mungilnya sambil tersenyum. Benar, mereka tersenyum. Mengertikah mereka akan arti lambaian dan senyumannya itu.
Nuraini merasa kekuatan tubuhnya tiba-tiba menghilang. Padahal dengan kedua tangannyalah ia berhasil menyelamatkan ibunya dari timbunan reruntuhan rumah dan gulungan ombak ketika musibah itu datang. Dengan kedua tangannya pula tak terhitung berapa jumlah mayat yang ia angkat. Bahkan para relawan yang katanya dihargai 35.000 rupiah setiap berhasil mengangkat satu mayat, tersenyum malu melihat ketangguhan Nuraini.
Bayang-bayang kecemasan terus menghantui pikiran Nuraini. Tak kuasa ia membayangkan jika nasib santrinya itu akan seperti berita-berita buruk yang pernah didengarnya. Demi Zat yang menguasai jiwa dan bumi yang telah membuat malu para penjajah ini, Nuraini tak pernah rela jika aqidah anak-anak didiknya sampai berubah.
Asap hitam yang ditinggalkan oleh bus itu mengepul tebal di udara. Tubuh Nuraini tiba-tiba limbung. Semuanya gelap dan ringan bagi Nuraini. Ia seakan tak mampu lagi berpijak di bumi. Tetapi samar mata Nuraini menangkap kilatan biru dari mata bocah kecil yang tengah berlari ke arahnya dari arah barat. Oh� mata biru itu. Mata indah itu milik Mutia gadis kecilnya.
* * *
Catatan:
Geuchik :Kepala desa
Bagah kajak laju, awak nyan katroh lom : Pergilah cepat, mereka telah datang lagi
Meunasah: Mushalla/Masjid
Imum Meunasah: Imam mushalla/masjid
Gunung Geurutee : Gunung yang menjadi batas Kab. Aceh Jaya (Lamno) dengan Aceh Besar I
Indepedensi Mahasiswa
MEMPERTANYAKAN INDEPENDENSI MAHASISWA
Pemilu yang akan dilaksanakan bulan Februari 2012 nanti mengundang perhatian Masyarakat dan Mahasiswa, dimana nama Unsyiah disebutkan, dimana spanduk mengatasnamakan rektor Unsyiah ada seluruh daerah di Aceh. Rektor Unsyiah ikut mencalonkan diri menjadi Gubernur, apakah tanggapan para mahasiswa?, jika terpilihnya birokrat (penguasa kampus), apakah perubahan yang terjadi, dan bagaimana nasib msyarakat?
Kondisi yang memprihatinkan, memberi isyarat bahwa kajian terhadap penguasa kampus menjadi sangat penting bagi kampus yang sedang proses perkembangan. Meskipun mengatasnamakan kampus Unsyiah bukan berati kita terperangkap dalam cengkraman penguasa kampus, Mahasiswa harus menentukan sikap berdasarkan pemikiran sendiri, dan bebas dari intervensi pihak lain. Apakah penguasa kampus yang menjabat sebagai Rektor kemudian terjun ke dalam dunia politik tidak berpengaruh nantinya pada kehidupan Masyarakat?apakah ada pengaruh nya antara dunia pendidikan dengan dunia politik?
Masalah seperti ini mengingatkan saya pada kasus Bupati Aceh Barat, yaitu Ramli,ms. Beliau berasal dari pendidikan yaitu Kepala Sekolah yang kemudian mencalonkan diri sebagai Bupati. Setelah beliau terpilih dan menjabat sebagai Bupati Aceh Barat, adakah perubahan yang menonjol?. Mungkin beliau lebih terkenal karena banyak media yang memberitakannya, bahkan saya pernah mengunjungi situs youtube yang disitu terdapat suatu video mengenai pro kontra antara bupati Aceh Barat dengan mahasiswa UTU. Menurut informasi yang saya dapatkan dari kawan saya yang juga termasuk Mahasiswa di UTU, bahwa adanya penyalahgunaan pada uang praktikum mereka, yang seharusnya sudah dibayar bersamaan dengan SPP tapi mereka juga harus mengeluarkan uang sendiri ketika mengikuti praktikum. kemanakah uang Mahasiswa digunakan?. Saya pun berpikir kenapa ini ada hubungannya dengan Bupati, ternyata itu karena beliau merupakan pembina di universitas tersebut. Sedangkan Rektor mereka belum dilantik saat itu, ini informasi yang saya peroleh dari mahasiswa yang juga ada mengikuti demo di kantor bupati pada waktu yang lalu.
Saya tidak bermaksud untuk memihak ataupun menjatuhkan pihak yang terkait dalam tulisan ini, hanya pemikiran saya terhadap kebijakan dan tanggung jawab serta ketidaklalaian dalam melaksanakan tugas. Mahasiswa independen adalah mahasiswa yang bergerak, mahasiswa yang tidak diam melihat kerusakan yang terjadi, karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat.
Mahasiswa harus mampu melihat dirinya jauh lebih dalam sampai ia menyadari bahwa dirinya adalah kaum intelek sekaligus agen perubahan. Dengan bermodalkan kecerdasan, kreativitas, serta militansi, posisi mahasiswa begitu kencang membawa angin perubahan. Kekuatan itu justru terkunci, bahkan rontok digusur rasa takut ketika indepedensi mahasiswa dikesampingkan. Independen yang saya tahu adalah menentukan sikap berdasarkan pemikiran sendiri, bebas dari intervensi pihak manapun.
Dalam masalah ini kita bisa mengambil langkah dengan jalan membangun kelompok mahasiswa yang strategis, dengan demikian ini bisa dijadikan sebagai jembatan bagi pelaksanaan setiap kebijakan-kebijakan administratif dari penguasa kampus dengan aspirasi rakyat. Jika penguasaan kita terhadap lingkungan kampus rendah, maka korupsi akan tumbuh subur, bangunan pendidikan rapuh dan Nepotisme merajalela. Masalah itu terjadi karena kurangnya perhatian dari kalangan mahasiswa itu sendiri.
Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa harus menyadari bahwa kita mempunyai independensi, mungkin selama ini indepedensi kita terkubur, mulai sekarang kita harus menggalinya kembali. Independensi yang kita miliki perlu diimbangi dengan kemampuan yang memadai, kualitas yang cemerlang dan militansi yang tinggi supaya kita tidak dipandang sebelah mata. Dengan demikian, masyarakat kampus bisa merasakan dampak kehadiran kita dikampus dan dimasyarakat.
Sabtu, 17 Desember 2011
Tak Ingin Mengulanginya
hmmm pagi ini adalah pagi dimana minggu yang lalu aku merasakan sesuatu banget (jgn pikir ini hal yg mnyenangkan). sesuatu itu adalah hal yg memalukan. akhirnya ku pasang ancang2 supaya tdk mengulangi lg kejadian itu,,,
sarapan ku hari ini membuat perut ku tersenyum,,trima kasih ya Allah,ternyata hari ni tak seburuk hari yg lalu. kuliat jam masih jam 2,dan kakak ku bergegas ingin pulang dari kamar ku yg kecil dan sederhana,krn aku beda tempat tnggal dgannya.dan tiba-tiba HP ku berdering,oh suara itu tak asing lagi bagi ku...yah dia kawan wkt aq SMA.wah...kebetulan sekali aku suruh dia ke rumah ku sebelum ashar. dan tiitt..tittt..titt (bukan suara tukang es krim,,meskipun aku sngat suka dgn es krim,,,suara klakson nya pun beda,,huft penulis yg aneh,ckckc).
kami pun bergegas menuju kampus kesayangan, dimana tempat kami menuntut ilmu. yah akhirnya aku masuk sendiri krn kawan ku hanya mengantar saja,,hehee...
ini adalah kampus ku, kampus yg megah, mewah, dan paling terkenal di kota ku, tapi kenapa oohh kenapa saat aku mau wudhu, wc kering, kran air kering, oh tidaaakk...ternyata air gak keluar, siapa yg harus bertanggung jawab atas hal ini??sudah lah gak usah di ributkan.braaakk...keluar seseorang dari wc, tanya ku "kakak wudhu disitu?",jawab nya "iya dek, krn ga ada air,yg penting kita pecaya dan yakin aja". mendengar hal itu ya udah aku ikutan wudhu disitu krn emg tmpat lain ga ada air,dn kalo aku plg k rmh pun ga mgkin krn janji ku gak akan mengulangi kejadian mggu yg lalu.... alhamdulillah stelah shalat aku mnuju gedung yg lain utk kuliah,kuliah yg sebenarnya sangat mmbuat ku malu pada senin yg lalu.
huh ternyata di kelas baru aku ank perempuan yg pertama mnyentuh lantai kelas,aku putuskan duduk di luar saja.horeeee,,,akhirnya teman ku irsa dan yus datang juga.
menunggu ampe jam 5 sore,ternyata bapak tu gak datang, usaha aku sia-sia. aku pun pulang,,,,yess, rintik-rintik pun mulai membasahi bumi dan aku kebasahan sebelum nyampek rumah. ku bergegas membuka ricecooker, ohh nasibb, ternyata nasiku sudah berubah menjadi emas (jgn kalian pikir bisa di jual),aku baru ingat tentang colokan nya,,,karena semalam aku menginap di rumah sakit...semua ku bereskan, hingga akhirnya ku ambil teman ku dan mulai mngetik tulisan ini.
semoga senin depan aku menemukan pangeran,,opss salah maksud nya semoga senin depan aku menemukan sesuatu banget (jangan coba2 berpikiran ini copas syahrini,krn saya dngar ini dari nenek saya),,sesuatu yg membuat saia luar biasa,,:)
sarapan ku hari ini membuat perut ku tersenyum,,trima kasih ya Allah,ternyata hari ni tak seburuk hari yg lalu. kuliat jam masih jam 2,dan kakak ku bergegas ingin pulang dari kamar ku yg kecil dan sederhana,krn aku beda tempat tnggal dgannya.dan tiba-tiba HP ku berdering,oh suara itu tak asing lagi bagi ku...yah dia kawan wkt aq SMA.wah...kebetulan sekali aku suruh dia ke rumah ku sebelum ashar. dan tiitt..tittt..titt (bukan suara tukang es krim,,meskipun aku sngat suka dgn es krim,,,suara klakson nya pun beda,,huft penulis yg aneh,ckckc).
kami pun bergegas menuju kampus kesayangan, dimana tempat kami menuntut ilmu. yah akhirnya aku masuk sendiri krn kawan ku hanya mengantar saja,,hehee...
ini adalah kampus ku, kampus yg megah, mewah, dan paling terkenal di kota ku, tapi kenapa oohh kenapa saat aku mau wudhu, wc kering, kran air kering, oh tidaaakk...ternyata air gak keluar, siapa yg harus bertanggung jawab atas hal ini??sudah lah gak usah di ributkan.braaakk...keluar seseorang dari wc, tanya ku "kakak wudhu disitu?",jawab nya "iya dek, krn ga ada air,yg penting kita pecaya dan yakin aja". mendengar hal itu ya udah aku ikutan wudhu disitu krn emg tmpat lain ga ada air,dn kalo aku plg k rmh pun ga mgkin krn janji ku gak akan mengulangi kejadian mggu yg lalu.... alhamdulillah stelah shalat aku mnuju gedung yg lain utk kuliah,kuliah yg sebenarnya sangat mmbuat ku malu pada senin yg lalu.
huh ternyata di kelas baru aku ank perempuan yg pertama mnyentuh lantai kelas,aku putuskan duduk di luar saja.horeeee,,,akhirnya teman ku irsa dan yus datang juga.
menunggu ampe jam 5 sore,ternyata bapak tu gak datang, usaha aku sia-sia. aku pun pulang,,,,yess, rintik-rintik pun mulai membasahi bumi dan aku kebasahan sebelum nyampek rumah. ku bergegas membuka ricecooker, ohh nasibb, ternyata nasiku sudah berubah menjadi emas (jgn kalian pikir bisa di jual),aku baru ingat tentang colokan nya,,,karena semalam aku menginap di rumah sakit...semua ku bereskan, hingga akhirnya ku ambil teman ku dan mulai mngetik tulisan ini.
semoga senin depan aku menemukan pangeran,,opss salah maksud nya semoga senin depan aku menemukan sesuatu banget (jangan coba2 berpikiran ini copas syahrini,krn saya dngar ini dari nenek saya),,sesuatu yg membuat saia luar biasa,,:)
Selasa, 25 Oktober 2011
Masa sekolah ku
taraaa..........nih poto masa-masa SMA ma kwan,,yg di tengah so pasti guru yg gokil abesss,,,pak Bukhari Ali,,,okeh qta mulai perkenal kan diri satu-satu,d mulai dari sebelah kiri no 1,tu si tuti,selanjut nya tika,ipit,ewin,,,,next yg di tunggu2,,,akhir nya giliran saya pada urutan no 5 dari kiri layar kaca komputer anda,yg ga da komputer,,blackberry dari kayu boleh uga,,,hakshaks,,hahhaha..dan yg terakhir d samping saya tu sieh Eka,,,
gmn,,,uda kenal kan??,,,ne lah nostalgia saya semasa skula dulu,,:D
CINTA SBG KEKEKALAN ENERGI
kamu percaya tidak,kalau cinta itu punya hukum kekekalan energi?Manusia yang dalam hati nya tidak tertancap rasa cinta,ia adalah monster yang berwujud manusia jadi-jadian.Aktivitas kehidupannya akan dipenuhi berbagai prilaku yang mengganggu. Akibatnya,ada semacam ketidakteraturan yang terjadi di lingkungan masyarakat,disebabkan tidak menggeloranya energi cinta dihatinya.
Kekuatan cinta bisa mengalahkan segala hal yang ada di dunia.Lawan dari cinta adalah kebencian. sebetulnya,benci adalah cinta yang berubah bentuk dari kasih sayang menjadi kekecewaan.
Tadinya, kamu sangat mencintai seseorang, tetapi tiba-tiba dalam beberapa hari, ia menyakitimu. Kamu cinta dan sayang kepadanya, tapi karna ia tidak menampakkan laku lampah yang pengasih dan penyayang, kamu merasa harus membalas dengan hal yang serupa. Benci dibalas dengan benci begitu pula cinta di balas dengan cinta.
Cinta, dalam hidup itu ibarat "gardu" listrik yang bisa menampung daya gerak yang luar biasa bagi tubuh. Karena kecintaan dan tidak mau kehilangan anaknya, seorang ibu rela mengemis di jalanan. Karena rasa cinta yang menggebu, seorang pemuda rela berkorban tidak makan satu hari hanya untuk menabung buat apel malam mingguan. Itulah hidup yang dipenuhi energi cinta sejuta rasa. Segala bentuk pengorbanan diberikan hanya untuk menjaga agar orang yang dicintainya tidak menghilang dari dunia nyata.
CARA MENENTUKAN HARI LAHIR KITA
Kali ini aq bakal kasih tau kalian cara menentukan hari lahir kalian semua (bagi yang buka blog aq maksud nya)heheheh,,,
Ilmu ini aq dapatkan dari dosen aq pakar geometri se Aceh,,,yaitu bapak Hasan munir (maaf bapak,aq lupa title nama bapak),,,waktu aq menginjak kaki di Universitas Syiah Kuala yaitu pada semester 1,,,kami mengetahui cara ini dari beliau,,,
okey cekidottt>>>>
oyaa,,sebelum qta mulai saran saya pada saat pembagian jangan memakai kalkulator ya,karna qta butuh sisa yg murni bukan sisa pembagian dari kalkulator....
sekarang sebagai contoh aku coba dulu pada tanggal tsunami,yaitu tanggal 26 desember 2004,,,,ada yg masih ingat gak itu jatuh pada hari apa??kalo ada yg uda lupa,,wah itu kebangetan namanya,tp tenang ja,qta akan lakukan pada cara ini untuk menentukan hari nya.....
saya beri simbol singkatan dulu ya,biar gak bingung nantinya
JH ☛ jumlah hari
K ☛ kabisat (kalo aq gak salah dengar wktu itu,,,heheheh)
T ☛ tahun
H ☛ jumlah yg td kemudian bagi dgn 7 hari,,,rumus nya JH + K + T / 7 (agak bingung ya)haha...
okey,,lanjuttt :)
JH= jan+feb+maret+april+mei+juni+juli+agustus+september+oktober+november+desember
= 31+29+31+30+31+30+31+31+30+31+30+26
K = T-1/4 = 2004-1/4 = 2003/4 = 500 sisa pembagiannya 3
H = JH+K+T/7 = 361+500+2004/7 = 409 sisa nya 2
Ilmu ini aq dapatkan dari dosen aq pakar geometri se Aceh,,,yaitu bapak Hasan munir (maaf bapak,aq lupa title nama bapak),,,waktu aq menginjak kaki di Universitas Syiah Kuala yaitu pada semester 1,,,kami mengetahui cara ini dari beliau,,,
okey cekidottt>>>>
oyaa,,sebelum qta mulai saran saya pada saat pembagian jangan memakai kalkulator ya,karna qta butuh sisa yg murni bukan sisa pembagian dari kalkulator....
sekarang sebagai contoh aku coba dulu pada tanggal tsunami,yaitu tanggal 26 desember 2004,,,,ada yg masih ingat gak itu jatuh pada hari apa??kalo ada yg uda lupa,,wah itu kebangetan namanya,tp tenang ja,qta akan lakukan pada cara ini untuk menentukan hari nya.....
saya beri simbol singkatan dulu ya,biar gak bingung nantinya
JH ☛ jumlah hari
K ☛ kabisat (kalo aq gak salah dengar wktu itu,,,heheheh)
T ☛ tahun
H ☛ jumlah yg td kemudian bagi dgn 7 hari,,,rumus nya JH + K + T / 7 (agak bingung ya)haha...
okey,,lanjuttt :)
JH= jan+feb+maret+april+mei+juni+juli+agustus+september+oktober+november+desember
= 31+29+31+30+31+30+31+31+30+31+30+26
K = T-1/4 = 2004-1/4 = 2003/4 = 500 sisa pembagiannya 3
H = JH+K+T/7 = 361+500+2004/7 = 409 sisa nya 2
Langkah selanjutnya kita buat hari yg di beri nomor,hari nya dimulai dengan hari jumat krn hari jumat merupakan hari utama bagi umat islam.,,,(religius uga)hehehe.
okey,,,,kita buat seperti di bawah ini ya,,,
jumat sabtu minggu senin selasa rabu kamis
0 1 2 3 4 5 6
sekarang coba kita liat yg H nya,,,setelah ditambah lalu dibagi dengan 7,,,liat hasilnya yaitu 409 dengan sisa 2,coba kita liat angka 2 jatuh pada hari apa?jawaban nya hari minggu,krn hari minggu telah kita beri no 2.
sekarang kamu ingat kan kalo tsunami itu jatuh pada hari minggu,,,,
mudah kan :D.
kita juga bisa buat dengan hari lahir kita
saya akan postingan tanggal lahir saya pada waktu yang akan datang,,,sekarang uda capek,tangan ku uda pada sakit semuaaaaaaa..........:D
salam manis semua nyaaa,,,,,
KEUNIKAN ANGKA 9 DAN 10
Kita mulai posting ya,,,,
ne ada kaitan nya uga dengan agama,ternyat matematika itu uga erat sekali kaitan nya dengan agama
Ada yang tau gak???apa keunikan dari angka 9 dan 10?
ok,,mari qta mulai.....
- pertama,kamu ambil kalkulator atau alat hitung lainnya..
- kamu tentukan sembarang bilangan bulat,,,tp jangan bilangan bulat kelipatan 9 atau 11
- bagi dengan 9 atau 11
- Lihat hasilnya...
Ada yang aneh??yupz tentu saja,bukankah angka di belakang koma (,) selalu berulang.....
kalo kamu masih gak percaya coba aja dengan bilangan lainnya,,pasti angka d belakang koma akan berulang lagi.
Ada yang tau artinya???
ini seperti halnya nikmat Allah yang tidak habis bila ditulis, ibarat laut jadi tinta nya dan seluruh ranting jadi pena nya, tak akan cukup menulis bilangan di belakang koma tersebut,sama hal nya dengan nikmat Allah swt.
sekarang kita kembali lagi pada keunikan angka 9 dan 11....
9 dikali 11 hasilnya berapa???
pasti kita dapat kan dan kita tau bahwa hasilnya adalah 99.
dan itu merupakan jumlah Asmaul husna.
kemudian,9 ditambah 11 hasilnya 20...
dan itu pun jumlah sifat wajib bagi Allah
SUBHANALLAH.....
semoga dari ilmu yang kita dapatkan,kita semakin bisa mendekatkan diri kepada Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)


